NGALOR-NGIDUL BEKASI: Pantai Bekasi Pernah Mencapai Cikunir? (Radar Bekasi, Kamis, 8 April 2010)

Ada yang unik bila kita berekreasi ke laut di pantai Bekasi. Laut yang membentang sepanjang Kecamatan Tarumajaya, Babelan, dan Muaragembong, terutama di Desa Pantai Mekar, Pantai Makmur, Hurip Jaya, kini bagai daratan: dipatok-patok warga.

Patok yang terbuat dari drum-drum bekas, merupakan tanda batas antarpemilik “lahan”. Laut yang sudah setengah matang alias tertimbun lumpur akibat sedimentasi dari kali Kanal Bekasi Laut (CBL), Kali Citarum, Kali Ciherang, Kali Cikarang, dan Kali Bekasi, itu diberi cerucuk menggunakan bambu atau batang-batang pohon. Lantas ditimbun menggunakan lumpur, sehingga menyerupai galengan (pematang) sawah.

Adapun laut yang sudah matang, berubah menjadi daratan. Namun, karena daratannya masih amat muda, dimanfaatkan warga menjadi tambak-tambak ikan dan udang. Dari sini menunjukkan, betapa daratan di pantai Bekasi kian lama kian menjorok ke Teluk Jakarta di Laut Jawa.

Kalau daratan di Bekasi bagian utara itu semakin bertambah dan menjorok ke laut, mungkinkah pada masa silam garis pantai Bekasi jauh ke daratan Bekasi? Mungkin saja. Buktinya, ketika saya berwudhu di salah satu mesjid di Kecamatan Sukawangi, usai mengirimkan bantuan bagi korban banjir Kali Citarum di Muaragembong, Sabtu pekan lalu, air tanahnya terasa asin. Padahal jaraknya dari pantai sekitar 10 kilometer.

Seorang teman di Sukatani menduga pantai Bekasi pernah berada di sepanjang Kecamatan Sukatani yang jaraknya sekitar 15 kilometer dari garis pantai sekarang. “Selain airnya payau, dulu waktu saya kecil hampir semuanya berbentuk rawa-rawa,” katanya.

Begitu saya membuka peta Bekasi akhir 1930-an, memang sebagian besar area sebelah utara rel kereta api hingga pantai Bekasi berupa persawahan, rawa-rawa yang dalam dan saling menyatu antarrawa, dan rawa-rawa yang menyatu dengan pantai.

Kita juga patut curiga, jangan-jangan garis pantai Bekasi sampai pula ke Kota Bekasi yang berjarak sekitar 30-40 kilometer dari garis pantai. Lihatlah, sekitar daerah yang bersinggungan dengan Kali Bekasi ada wilayah bernama Teluk Buyung dan Teluk Pucung, Kecamatan Bekasi Utara dan Bekasi Timur. Artinya, daerah yang kini menjadi daratan dengan pemukiman penduduk yang padat, mungkin dulunya berupa teluk.

Saya makin percaya tatkala membuka-buka makalah Bagyo Prasetyo, arkeolog prasejarah Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, berjudul “Bekasi Tempo Doeloe: Awal Persentuhan dengan Budaya Luar”. Makalah yang disampaikan dalam semi lokakarya Menggali Akar Budaya dan Adat Istiadat Asli Bekasi di Kabupaten Bekasi pada 2002, itu bahkan meneguhkan bahwa garis pantai Bekasi pernah mencapai Cikunir, Jati Asih, Kota Bekasi.

Kapan garis pantai yang kini membentang sepanjang Jalan Tol Jakarta-Cikampek tersebut? “Sekitar 40 ribu tahun silam atau pada masa plestosen awal,” kata Bagyo. Pada fase awal itu, kata dia, muka laut berada pada ketinggian 25-35 meter dari permukaan laut sekarang, yakni sebelah selatan Cikunir, Pasar Minggu, dan Tangerang.

Fase kedua, sekitar 4.500 tahun silam pada masa neolitik. Saat itu muka laut berada pada kektinggian 4-5 meter di atas muka laut sekarang, yakni utara Pantai Makmur (Bekasi), Utara Kapuk, Rawa Burung, dan Teluk Naga.

Fase ketiga, sekitar 1.500 tahun lalu. “Bersamaan dengan kehadiran Dinasti Sui-Tang (581 M – 906 M), saat muka laut berada pada ketinggian 2-3 meter di atas muka laut sekarang. Hal ini, kata dia, ditunjukkan oleh endapan pematang pantai purba yang kini berada di daerah Marunda, Pantai Makmur, Pangkalan I, dan Utara Kandang.

Fase keempat, sekitar 500 tahun yang lalu, bersamaan dengan kehadiran dinasti Ming-Qing (Manchu) 1368-1600 Masehi. “Ketika itu muka laut berada pada ketinggian sekitar 1 meter di atas muka laut sekarang, yakni Segara Makmur, Sunda kelapa, Pluit, dan Dadap,” kata Bagyo.

Bagi arkeolog, fase-fase ini amat bermanfaat untuk mengidentifikasi pertanggalan situs-situs yang ditemukan. Bagi dunia pertambangan, amat berguna untuk mengetahui tua-mudanya kandungan fosil di dasar tanah Bekasi. Fosil-fosil yang sudah amat tua ini kemudian menjadi minyak dan gas. Makanya, tak heran kalau sejak akhir 1990-an hingga kini di Bekasi bagian utara ditemukan dan dieksplorasi gas dan minyak.

Ali Anwar, Sejarawan
Alianwar65@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: