Pro-kontra Wacana Kota Pancasila (Pikiran Rakyat, Senin, 15 Maret 2010)

Akan Jadi Program Nasional dan Pertama di Indonesia
Pro-kontra Wacana Kota Pancasila

BUKAN Mokhtar Mohamad namanya, kalau tidak membuat gagasan kontroversial sehingga mengundang wacana. Kali ini, dalam rangkaian acara HUT Kota Bekasi ke-13, “Sang Wali Kota” melontarkan gagasan, mengganti julukan kota Bekasi dari kota patriot menjadi kota Pancasila. Sontak, idenya memancing riak perdebatan. Sebagian menilai akan menghilangkan aspek kesejarahan Bekasi dan menurunkan derajat Pancasila sebagai dasar Negara. Namun, ada juga yang menganggap bahwa hal tersebut merupakan satu terobosan brilian.

Pernyataan tentang kota Pancasila ini dikatakan oleh Wali Kota pada saat memberikan pidato peringatan HUT Kota Bekasi di Makam Pahlawan Bulak Kapal, Selasa, (9/3). Menurut Mochtar, Bekasi secara historis memiliki peran yang cukup besar dalam perjuangan bangsa Indonesia. Menurut dia, kata patriot memiliki arti yang sama dengan Pancasila. “Patriot dan Pancasila sama artinya. Malah Pancasila lebih luas maknanya. Dan tidak akan mengurangi esensinya,” ujar Mochtar.

Menurut Mochtar, julukan kota Pancasila tersebut sudah dikaji jauh-jauh hari, termasuk sudah dikonsultasikan kepada banyak pihak. Rencananya dalam waktu dekat akan diajukan ke DPRD Kota Bekasi untuk disetujui. Dalam sejarahnya kata Mochtar, Kota Bekasi memiliki peran yang sangat besar pada perjuangan kemerdekaan. Menurut dia, Pancasila menjadi muara dari semua perjuangan rakyat. Untuk itu, dianggap tidak berlebihan jika kemudian julukan kota Pancasila disandang oleh Kota Bekasi.

“Tentunya, agar nilai-nilai Pancasila dapat diteladani dan diamalkan secara konsisten oleh masyarakat Kota Bekasi,” kata Mochtar seolah memberikan penekanan khusus dalam pidatonya.

Ahli sejarah dan budaya Bekasi Ali Anwar mengatakan bahwa ide yang dilontarkan oleh Mochtar adalah gagasan besar dan mulia. Dia juga sependapat dengan Mochtar bahwa makna kota patriot dengan kota Pancasila tidak jauh berbeda, karena para patriot yang berjuang di Bekasi juga untuk mengamankan sekaligus mengamalkan Pancasila. Akan tetapi kata Ali, bukan berarti harus mengganti secara sembarangan julukan kota patriot yang telah diwariskan para pejuang kepada generasi muda Bekasi dengan nama lain.

“Kalau julukan kota Pancasila dipaksakan untuk mengganti kota patriot, justru bakal mengecilkan arti Pancasila, karena alasan-alasan yang dikemukakan Mochtar historis,” ujar Ali.

Program nasional

Ali menjelaskan, argumentasi historis dan kultural yang diungkapkan oleh Mochtar sangat lemah. Menurut Ali, dalam sejarahnya Bekasi tidak memiliki keterlibatan langsung dalam pembahasan cita-cita Proklamasi. Rumusan Pancasila sendiri lahir di daerah Pejambon Jakarta, pada saat sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, pada 29 Mei-1 Juni 1945. Kalaupun dikaitkan dengan kedatangan Soekarno pada akhir Okotober 1945, juga tidak relevan. Sebab, kedatangan Soekarno di alun-alun Bekasi hanya untuk menenangkan rakyat Bekasi pascaperistiwa Kali Bekasi.

“Dengan menyimak fakta sejarah tersebut, menunjukkan bahwa gagasan cita-cita proklamasi maupun Pancasila bukan terjadi di Bekasi, melainkan di Jakarta. Dengan demikian, julukan kota Pancasila lebih tepat disandang oleh Jakarta, itu pun kalau Jakarta mau,” kata Ali.

Ali juga mempertanyakan, sejauh mana Mochtar telah melakukan komunikasi dengan para pemangku kepentingan atau pemangku kepentingan yang katanya sudah setuju tersebut.

“Siapa yang dimaksud Mochtar dengan pemangku kepentingan? Apakah sudah berbicara dengan para pejuang yang tergabung dalam Legiun Veteran Republik Indonesia dan organisasi anak-anak pejuang, lembaga adat BKMB, BKMKB, Laskar Patriot, lembaga swadaya masyarakat, akademisi, sejarawan, budayawan? ” ujar Ali dengan nada tanya.

Pernyataan Ali dibantah keras oleh Asda II Kota Bekasi Zaki Oetomo, yang menganggap terlampau reaktif tanpa mengkaji lebih dalam pernyataan wali kota. Sebab, statemen wali kota bukan untuk menganti sesanti Kota Bekasi, tetapi hanya sebagai julukan yang berangkat dari keprihatinan akan lunturnya nilai-nilai Pancasila di masyarakat terutama generasi muda. Semangatnya adalah untuk menanamkan dan mengamalkan secara konsekuen Pancasila.

Bahkan, beberapa program percobaan menurut dia, sudah dilakukan, salah satunya adalah dengan membagikan diari (buku agenda) Pancasila kepada para siswa di SMAN 1 Bekasi. Para siswa dari mulai Senin sampai Sabtu ditugaskan untuk mencatat setiap aktivitas, agar sesuai dengan nilai-nilai pancasila.

“Bahkan, Diary Pancasila direspons bagus oleh Ketua MPR RI dan akan dilombakan di seluruh Indonesia. Rencananya, peresmiannya akan dilakukan langsung oleh presiden pada akhir Maret mendatang,” ujar Zaki.

Dihubungi terpisah, Ketua DPRD Kota Bekasi Azhar Laena mengatakan bahwa pihaknya memang pernah diajak diskusi terkait dengan wacana Kota Pancasila tersebut.

“Pada tataran esensi saya setuju, karena merupakan terobosan yang bagus untuk membangkitkan spirit Pancasila. Kota Bekasi akan menjadi daerah pertama di Indonesia, yang mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila dan akan menjadi contoh bagi daerah-daerah lain, ” ujarnya.

Namun, jika julukan Pancasila akan dijadikan penganti sesanti Kota Patriot, Azhar mengatakan, perlu kajian yang lebih mendalam dan melibatkan banyak unsur. Azhar mengakui jika wacana tersebut menimbulkan reaksi keras dari banyak kalangan.

Hanya saja menurut dia, hal tersebut sebatas persoalan komunikasi yang kurang efektif. Politisi asal Partai Demokrat ini mengiimbau agar semua pihak, bisa menahan diri dan berkepala dingin dalam menyikapi isu tersebut untuk menghindari politisasi.

“Sejauh ini, diskusi saya dengan wali kota masih terkait pada tataran esensi Pancasila dan belum mengarah pada pengantian sesanti kota patriot. Saya harap, wacana ini jangan dipolitisasi, tetapi harus dibicarakan dengan kepala dingin, ” ujarnya. (JU-16)***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: