NGALOR-NGIDUL BEKASI: Pengkhianat Patriot (Radar Bekasi, Senin, 15 Maret 2010)

Tulisan saya berjudul “Endonan, Pejuang dan Pengkhianat,” di “Ngalor-ngidul Bekasi” surat kabar Radar Bekasi edisi 4 Maret lalu, dikritik seorang teman. Kata dia, saya tidak memberi contoh siapa saja orang-orang yang pernah menjadi penghianat Bekasi. Ada pula yang bertanya, apakah semua orang yang berperan dalam sejarah perang kemerdekaan 1945-1949 di Bekasi bisa disebut patriot? Apakah tidak ada penghianatnya?

Saya bilang, penghianat selalu ada dalam setiap perjuangan. Sebenarnya saya berniat menunjuk hidung para penghianat Bekasi dari masa ke masa, termasuk sampai era reformasi ini. Namun, untuk lebih simpel, saat ini saya cukup memaparkan satu masa saja, yakni perang kemerdekaan 1945-1949. Mengapa? Saya punya data kuat berupa arsip laporan intelijen Tentara Republik Indonesia (TRI) pada 1947 yang terhimpun dalam Inventarisasi Arsip Sekretaris Negara 1945-1949 nomor 47.

Kota Bekasi dijuluki Kota Patriot karena Bekasi benar-benar menjadi tempat berjuangnya para patriot atau pembela tanah air Indonesia. Bukti sejarahnya ada, tapi entah kenapa, kok, nggak dimasukkan dalam buku Sejarah Nasional, sehingga banyak yang tidak diketahui para pelajar Bekasi maupun kaum pendatang.

Pada masa perang kemerdekaan, Bekasi dan Cikarang berstatus kewedanaan dari Kabupaten Jatinegara, Keresidenan Jakarta. Menjelang Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, pejuang Bekasi turut mengamankan perjalanan “penculikan” Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok, Karawang. Pada 19 September 1945 pejuang Bekasi menghadiri Rapat Raksasa di Lapangan Ikada Jakarta.

Para patriot Bekasi yang siap mati untuk kemerdekaan, bentrok dan membunuh 90 orang Tentara Pendudukan Jepang antara Stasiun Bekasi hingga Kali Bekasi pada 19 Oktober 1945. Patriotisme pejuang Bekasi ini menggegerkan dunia dan membuat gundah tentara Sekutu-Inggris dan Belanda yang berada di Jakarta. Selama di Ibu Kota negara, kaum penjajah ini juga dibuat tidak betah oleh perlawanan para pejuang di hampir semua sudut Jakarta.

Untuk membuat nyaman geraknya, Sekutu menjadikan Jakarta sebagai kota diplomasi. Konsekwensinya, mulai 19 November 1945 Jakarta harus dikosongkan oleh pasukan Republik Indonesia, baik yang reguler maupun nonreguler. Meski berat hati, para patriot menerima perintah pemimpin Indonesia untuk hijrah keluar Jakarta, terutama Tangerang, Bogor, Bekasi, dan Karawang.

Garis demarkasi atau tapal batas di sebelah timur Jakarta ditetapkan sepanjang Kali Cakung, Bekasi (sejak 1976 Cakung masuk dalam wilayah DKI Jakarta). Sebelah barat Kali Cakung dikuasai Sekutu, sedangkan sebelah timur Kali Cakung dikuasai Republik Indonesia. Pusat komando pertahanan republik, umumnya bermarkas di Karawang. Komando pertahanan terdepan ditempatkan di Gedung Tinggi Tambun, Gedung Papak Bekasi, dan Tangsi Polisi Bekasi. Sedangkan front pertahanan terdepan ditetapkan di garis demarkasi Cakung.

Perlu dicamkan, para patriot yang berjuang di Bekasi bukan hanya bocah-bocah asli Bekasi, tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Karawang, Purwakarta, Subang, Cirebon, Bandung, Garut, Tasikmalaya, Jogjakarta, Solo, Surabaya, Madiun, hingga luar Pulau Jawa. Bahkan mereka tidak mengenal jenis kelamin, lelaki dan perempuan bahu-membahu demi Ibu Pertiwi. Itu artinya, Bekasi adalah pertahanan terdepan Republik Indonesia, Bekasi adalah Indonesia.

Setiap dua pekan sekali mereka ditempatkan di tapal batas Bekasi itu. Mengintai musuh dan bertempur, hingga tak sedikit yang gugur. Kegeraman Sekutu menjadi-jadi tatkala pesawat Dakotanya mendarat darurat di Rawa Gatel, Cakung, pada 23 Nopember 1945. Sebanyak 26 orang tentaranya digelandang para pejuang ke Tangsi Polisi Bekasi, lantas dibunuh pada awal Desember 1945. Sekutu ngamuk, sehingga membom dan membakar kota dan kampung-kampung di Bekasi pada 13 Desember 1945.

Sudah biasa, dalam berjuang selalu saja ada pengkhianatnya. Pertahanan bersenjata Indonesia agak melemah, setelah menjamurnya partai-partai dan badan-badan perjuangan pada akhir 1945-1946. Beberapa badan perjuangan, terutama Lasykar Rakyat, menolak dikoordinir Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Untuk menghindari perpecahan, Komandan Batalion Hizbuillah Bekasi KH Noer Alie membentuk Badan Kelaskaran Bekasi pada 1946. Langkah ini didukung para komandan TKR dan badan-badan perjuangan.

Keretakan terjadi saat beberapa orang memasukkan ideologi Murba paska Konferensi Front Perjuangan Rakyat kedua yang dipimpin Tan Malaka di Surakarta ke dalam Badan Kelaskaran Bekasi. KH Noer Alie yang yang tidak mau Badan Kelaskaran Bekasi dimasuki unsur ideologi, memilih mengundurkan diri untuk selanjutnya kembali mengaktifkan Hizbullah. Seiring bubarnya Badan Kelaskaran Bekasi, pertahanan Bekasi-Karawang semakin rapuh.

Lasykar Rakyat pimpinan Haroen Oemar dan Soedjono beberapa kali bentrok dengan Tentara Republik Indonesia (TRI, pengganti TKR). Perintah Presiden Soekarno pada 18 Maret 1947 agar semua satuan bersenjata digabung ke dalam TRI di bawah Jenderal Soedirman, ditolak Lasykar Rakyat. Bahkan pada 13 April 1947, Lasykar Rakyat melakukan pemberontakan, melucuti pasukan TRI dan menduduki markas TRI di Tambun.

Pemberontakan dipadamkan pada 15 April, Lasykar Rakyat terdesak ke Jakarta. Situasi dan kondisi ini dimanfaatkan tentara Belanda yang menggantikan tugas Sekutu, Nederlandsch Indië Civil Administratie (NICA). Pimpinan Lasykar Rakyat yang ke Jakarta, dimanfaatkan NICA untuk memukul pasukan Republik Indonesia, seperti Haroen Oemar, Azis, Noerdin Pasariboe, Pandji, Fachroedin, Sjamsoedin, Koesnandar, Pa Matjan, Camat Nata, Soemarmo, dan Soedjono. Belakangan diketahui, Pandji dan Soedjono merupakan mata-mata NICA untuk mengacaukan pertahanan Bekasi.

Berkat bantuan para pengkhianat republik itulah, NICA berhasil membobol pertahanan Bekasi hingga Karawang dalam Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli 1947. Bahkan Haroen Oemar dan kawan-kawannya berada di gerbong terdepan sebagai penunjuk jalan.

Agresi menduduki pertahanan Bekasi-Karawang dan membuat pasukan republik porak-poranda. Wilayahnya pun dinyatatakan di bawah kekuasan Belanda. Dalam kondisi porak-poranda, KH Noer Alie menghimpun semua kekuatan perlawanan Bekasi-Karawang dengan membentuk Markas Pusat Hizbullah-Sabilillah (MPHS) Djakarta Raya di Tanjung Karekrok, sebelah utara Cikampek, pada September 1947.

Secara politis, MPHS untuk menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Republik Indonesia masih ada dan sanggup melakukan pertempuran hingga tetes darah penghabisan. Heroisme para patriot ini sampai-sampai menginspirasikan aranser dan musisi Ismail Marzuki yang mencipta lagu “Melati di Tapal Batas,” pujangga Chairil Anwar membuat sajak “Krawang-Bekasi”, serta sastrawan Pramoedya Ananta Toer menulis novel legendaris “Di Tepi Kali Bekasi”.

Semoga fakta sejarah ini bisa memberi “amunisi” bagi siapapun yang berminat untuk memahami julukan “Kota Patriot”. Dengan cara ini pula, siapapun yang mau mengubah julukan dan sesanti “Kota Patriot” dengan nama lain harus berpikir ulang. Bila tetap ngotot, silakan “langkahi dulu mayat” para pejuang patriot.

Ali Anwar, Sejarawan Bekasi
alianwar65@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: