NGALOR-NGIDUL BEKASI: Pelopor Sekolah Berdiary Pancasila (Radar Bekasi, Kamis, 18 Maret 2010)

Melalui harian Pikiran Rakyat edisi Senin, 15 Maret 2010, Asisten Sekretaris II Kota Bekasi Zaki Oetomo membantah keras kritikan saya terhadap pernyataan Wali Kota Bekasi Mochtar Mohamad yang akan mengganti julukan Kota Bekasi dari Kota Patriot menjadi Kota Pancasila. Zaki menganggap saya terlampau reaktif tanpa mengkaji lebih dalam pernyataan wali kota.

Sebab, kata dia, statemen wali kota bukan untuk menganti sesanti Kota Bekasi, tetapi hanya sebagai julukan yang berangkat dari keprihatinan akan lunturnya nilai-nilai Pancasila di masyarakat terutama generasi muda. Semangatnya adalah untuk menanamkan dan mengamalkan secara konsekuen Pancasila.

Bahkan, beberapa program percobaan menurut dia, sudah dilakukan, salah satunya adalah dengan membagikan diari (buku agenda) Pancasila kepada para siswa di SMAN 1 Bekasi. Para siswa dari mulai Senin sampai Sabtu ditugaskan untuk mencatat setiap aktivitas, agar sesuai dengan nilai-nilai pancasila.

“Bahkan, Diary Pancasila direspons bagus oleh Ketua MPR RI dan akan dilombakan di seluruh Indonesia. Rencananya, peresmiannya akan dilakukan langsung oleh presiden pada akhir Maret mendatang,” ujar Zaki.

Saya senang dinilai terlampau reaktif (lihat Ngalor-ngidul Bekasi berjudul “Bekasi Kota Pancasila?” di Radar Bekasi, Jumat, 12 Maret). Sebab, pernyataan Wali Kota Mochtar Mohamad di media massa, terutama INDO.POS edisi Rabu, 10 Maret 2010, berjudul “Dari Kota Patriot Jadi Kota Pancasila,” harus disikapi secara reaktif. Bila tidak ada reaksi, pernyataan Mochtar tersebut bisa-bisa dianggap sebagai pembenaran untuk mengubah julukan dan sesanti Kota Patriot menjadi Kota Pancasila.

Mengapa? Saya percaya dengan pendapat seorang tokoh masyarakat Kota Bekasi yang mengatakan, kalau lidah raja adalah titah absolut, sedangkan lidah wali kota adalah perintah berdasarkan undang-undang dan peraturan. Dengan demikian, pernyataan Wali Kota Mochtar Mohamad tersebut bisa dipersepsikan aparat dan masyarakatnya sebagai perintah berdasarkan undang-undang dan peraturan.

Saya harus bereaksi sejak dini, karena saya menganggap pernyataan wali kota tersebut ada yang perlu diluruskan. Reaksi saya juga tidak main-main. Sebagai sejarawan yang menggeluti sejarah Bekasi selama 25 tahun, saya memiliki alasan yang kuat agar julukan Kota Bekasi tetap sebagai Kota Patriot, bukan nama lain. Inilah tanggungjawab akademik dan tanggung jawab moral yang saya yakini.

Dalam media tersebut, Mochtar mengatakan pergantian julukan ini (Kota Patriot menjadi Kota Pancasila) sebagai hasil kajian yang dilakukan sejak beberapa tahun silam. Saat ini, kata dia, rebranding julukan itu sudah disetujui stake holder dan tinggal menunggu pengesahan DPRD. Bahkan dalam tulisan INDO.POS tersebut dinyatakan, julukan Kota Patriot diganti menjadi Kota Patriot akan diumukan dalam perayaan HUT Kota Bekasi ke-13, Rabu (10/3).

Belakangan saya makin yakin adanya indikasi untuk mengganti julukan Kota Patriot menjadi Kota Pancasila tatkala membuka situs http://www.mpr.go.id. Dalam rilis website tersebut bertanggal 4 Maret 2010 pukul 14:28 berjudul “Pancasila Bikin Gue Lebih Oke,” dinyatakan bahwa kesuksesan model Sekolah Terbuka Pancasila dan membagi diary Pancasila yang dilakukan Karang Taruna Nasional, “membuat Kota Bekasi hendak dijadikan Kota Pancasila.”

Karena dirasa mampu memberi arah bagi generasi muda, kata rilis tersebut, maka pada tanggal 31 Maret 2010, “Kota Bekasi akan diresmikan menjadi Kota Pancasila.” Mengapa Kota Bekasi dijadikan Kota Pancasila? “Sebab Kota Bekasi memiliki Sekolah Terbuka Pancasila paling banyak di Indonesia, jumlahnya mencapai 63 sekolah,” ujar Ketua Umum Pengurus Nasional Karang Taruna Dody Susanto.

Terlepas apakah pernyataan Mochtar dan Doddy benar atau salah, silakan diklarifikasi kepada publik secara fair, karena pernyataan mereka sudah dimuat secara tertulis di media massa. Kalau INDO.POS dan situs http://www.mpr.go.id yang salah, silakan Mochtar dan Doddy gunakan hak jawabnya. Sebisa mungkin, klarifikasi tidak diwakili.

Menurut saya, klarifikasi tersebut amat penting dan harus dilakukan, semata agar tidak membingungkan masyarakat Kota Bekasi. Dengan cara ini, kita akan belajar untuk bijaksana dalam berkata. Sebab pepatah lama mengatakan, kata dan pena lebih tajam daripada pedang. Pepatah lain mengatakan, “mulutmu harimaumu,” artinya perkataan yang salah akan merugikan diri sendiri.

Dalam tulisan itu saya tidak mengatakan Mochtar akan mengganti sesanti Kota Bekasi seperti ditudingkan pepada saya. Saya hanya mempersoalkan rencana penggantian julukan dari Kota Patriot menjadi Kota Pancasila. Jadi, kalau Zaki mengatakan “(Pancasila) hanya sebagai julukan,” ya sama saja dengan mengganti julukan Kota Patriot menjadi Kota Pancasila, karena Kota Bekasi bukan hanya sesanti melainkan juga julukan sejak lama.

Alasan saya jelas, julukan Kota Pancasila bila disandang Kota Bekasi akan menjadi ahistoris, tidak berdasarkan fakta sejarah, karena Bekasi tidak pernah menjadi daerah untuk menggagas, merumuskan, apalagi mengesahkan Pancasila. Mengingat gagasan besar Mochtar tersebut amat mulia, saya menyarankan sebaiknya julukan Kota Pancasila diberikan kepada daerah yang tepat secara historis, yakni Jakarta.

Alasannya, secara historis Jakarta pernah menjadi tempat pembahasan dan pengesahan Pancasila. Bisa juga julukan Kota Pancasila dipersembahkan untuk Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Karena Bung Karno mendapatkan inspirasi Pancasila saat diasingkan Pemerintah Hindia Belanda di Ende 1934-1938.

Saya setuju dengan program percobaan penanamkan dan pengamalan Pancasila secara konsekuen melalui pembagian diary (buku agenda harian) Pancasila kepada para siswa di SMAN 1 Bekasi. Para siswa dari mulai Senin sampai Sabtu ditugaskan untuk mencatat setiap aktivitas, agar sesuai dengan nilai-nilai pancasila.

Mengapa saya setuju? Ini bukan semata karena program percobaan diary Pancasila diterapkan di almamater saya, SMAN 1 Bekasi, tetapi juga karena saya seorang Pancasilais. Buktinya, saya ikut berperan dalam penandatanganan pernyataan sikap pemuda Bekasi bahwa Pancasila sebagai satu-satunya asas pada 1984, peserta peantaran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) di Universitas Indonesia (1984), dan peserta Pelatih Simulasi P4 di BP-7 DKI Jakarta.

Namun kalau hanya dengan momen percontohan diary Pancasila, lantas julukan Kota Patriot diganti menjadi Kota Pancasila, saya tidak sependapat. Biarlah julukan Kota Patriot menjadi kenang-kenangan para pejuang ’45 dan kebanggan generasi muda patriot. Untuk mengapresiasi atas diterapkannya nilai-nilai Pancasila pada sejumlah sekolah di seluruh Indonesia, Kota Bekasi cukup dikenal sebagai pelopor sekolah berdiary Pancasila.

Ali Anwar, Sejarawan Bekasi
alianwar65@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: