NGALOR-NGIDUL BEKASI: Guru Maro, Murid Ngarit (Radar Bekasi, Senin, 29 Maret 2010)

Tahun ajaran baru masih beberapa bulan lagi, namun berbagai lembaga pendidikan di Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi sudah ancang-ancang dengan memasang spanduk, menyebar brosur, beriklan di surat kabar hingga radio dan website. Tak hanya lembaga pendidikan umum, pesantrenpun ikut bersaing. Berbagai keunggulan dibeberkan, mulai visi dan misi yang ideal, kurikulum yang terintegrasi, pengajar yang berkualitas, hingga berbagai prestasi intrakurikuler dan ekstrakurikuler.

Insya Allah, santri jebolannya bakal menjadi insan yang berakhlakul karimah, berilmu pengetahuan, dan mandiri. Untuk menggodok para santrinya selama tiga tahun, pesantren mensyaratkan kepada para santri harus membayar uang pendaftaran ratusan ribu rupiah. Bila lulus ujian saringan, santri membayar uang bulanan atau semester jutaan rupiah hingga belasan juta rupiah.

Menyimak promosi yang gencar tersebut, semua orang mafhum kalau sebuah lembaga pendidikan pesantren mau memiliki bangunan bagus dan lengkap serta guru dan santri yang berkualitas, maka harus bersaing ketat dengan pesantren lain. Salah satu caranya, ya, santri atau orangtua santri harus merogoh kocek yang lebih dalam.

Dengan cara ini, guru dan pengurus bakal sejahtera. Bahkan, untuk pesantren yang modern, segala urusan bayar membayar tidak menggunakan tangan guru, melainkan melalui tenaga administrasi dan keuangan yang profesional. Guru cukup berkonsentrasi pada mengajar dan mengajar.

Kondisi ini amat berbeda dengan lembaga pendidikan Islam masa lalu. Kalau sekarang, guru dibayar menggunakan alat pembayaran yang sah berupa uang, dulu tidak harus membayar menggunakan uang. Kalaupun ada uang yang dikeluarkan santri, istilahnya “uang kapur”, yakni uang untuk membeli alat tulis yang terbuat dari kapur seukuran spidol kecil masa kini. Karena menggunakan kapur, alas tulispun menggunakan papan tulis atau blackboard. Belakangan, kapur tulis berganti menjadi spidol, adapun alas tulisnya menggunakan whithboard.

Hubungan lembaga pendidikan dengan muridpun nyaris tidak bernuansa uang, namun lebih pada pengabdian. Karena guru cukup lelah mengajari para santri, maka santripun diminta ikut meringankan pekerjaan sang guru dengan beberapa pekerjaan yang mendidik dan melatih fisik.

Pada 1970-an hingga 1980-an, saya masih mengalami suasana santri wajib menimba air dari sumur, lantas memasukkannya kedalam kolam musala dan rumah milik guru. Sebagai contoh, di Pasar Bekasi ada madrasah yang didirikan dan dikelola KH Abdul Hamid. Sebelum pelajaran dimulai, para murid menimba air dari sumur, lantas mengisinya ke kolam. Hal serupa dilakukan murid-murid ibu saya, Nurhayati, yang membuka madrasah di rumah. Karena tidak ada istilah murid membayar guru, maka menimba dan mengisi air ke kolam dikerjakan secara sukarela.

Itu suasana 30-40 tahun yang lalu. Bagaimana dengan hubungan guru-murid seabad silam? Hubungannya lebih pada imbal-balik antara guru dan murid. Ketika itu murid tidak membayar dengan uang, melainkan bekerja di sawah milik guru tanpa dibayar. Kalaupun berupa uang, itupun atas dasar pembagian keuntungan (peparo atau maro) dari hasil ngangon (memelihara) sapi, seperti tertulis dalam surat kabar “Panjaran Warta” edisi 12 Desember 1910:

“Dalam hal anak itoe menjadi sang goeroe sengadja piara sampi2 2-3 ekor terkadang lebih, kalaoe goeroe sampinja dipiara oleh itoe goeroenja dengan djandji maro, jaitoe maro kaoentoengannja. Oempamanja itoe sampi asal harga f 50,- satoe didjoeal f 80,- oentoeng f 30,- itoe f 30 dibagi doea f 15,- jang piara dan f 15,- sama sama harga asal bagian jang poenja, ataoew kaloe sampe beranak, nanti harga anaknja dipetjah doea djoega, hasil soesoepan demikian.”

Selain pembagian maro, imbal-balik juga bisa dilakukan murid dengan cara membuat kandang sapi dan ngarit rumput. “Sang goeroe perloe piara sampi sebab anak moeridnja dipastikan tiap-tiap hari sebelon doedoek mendjadi mesti bikin kandang sampi, toeroen ngadji moesti ngarit roempoet boeat makannja sampi”. Lain dulu lain sekarang, tetapi tujuan pendidikan tetap sama: mencerdaskan anak bangsa.

Ali Anwar, Sejarawan
alianwar65@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: