NGALOR-NGIDUL BEKASI: Gagasan Ahistoris Kota Pancasila Kandas (Radar Bekasi, Senin, 22 Maret 2010)

Kolaborasi sistemis Wali Kota Bekasi Mochtar Mohamad bersama Ketua Umum Karang Taruna Nasional Dody Susanto untuk mengganti julukan Kota Bekasi dari Kota Patriot menjadi Kota Pancasila, tampaknya bakal kandas. Setelah digempur berbagai komponen kaum patriot, akhirnya Mochtar menyatakan tidak akan mengganti julukan Kota Patriot menjadi Kota Pancasila.

“Saya tegaskan, tak ada ide pergantian julukan Kota Patriot menjadi Kota Pancasila. Apalagi, wewenang pergantian julukan Kota Bekasi bukan ada pada saya, tapi ada di DPRD. Alurnya kan memang seperti itu,” kata Mochtar (Radar Bekasi, Kamis, 18/3).

Adapun Dody sang penggagas utama, hingga saat ini seakan hilang ditelan bumi. Entah kenapa, Dody tidak kunjung mengklarifikasi, sampai-sampai beberapa teman menyatakan Dody masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) bocah Bekasi.

Prahara berawal dari pernyataan Mochtar di harian Indo.pos pada 10 Maret. Dalam berita berjudul “Dari Kota Patriot Jadi Kota Pancasila,” Mochtar menyatakan pergantian julukan tersebut sebagai hasil kajian yang dilakukan sejak beberapa tahun silam.

Saat ini, kata dia, rebranding julukan itu sudah disetujui stake holder dan tinggal menunggu pengesahan DPRD. Mochtar menilai, esensi Kota Patriot dengan Kota Pancasila tidak jauh maknanya. Pria kelahiran Gorontalo, itu menilai perubahan julukan ini tidak menghilangkan kandungan historis dan budaya Kota Bekasi. “Makna kedua julukan itu tidak jauh berbeda,” kata Mochtar.

Belakangan saya makin yakin adanya indikasi untuk mengganti julukan Kota Patriot menjadi Kota Pancasila tatkala membuka situs http://www.mpr.go.id. Dalam rilis pada 4 Maret 2010 pukul 14:28 berjudul “Pancasila Bikin Gue Lebih Oke,” dinyatakan bahwa kesuksesan model Sekolah Terbuka Pancasila dan membagi diary Pancasila yang dilakukan Karang Taruna Nasional, “membuat Kota Bekasi hendak dijadikan Kota Pancasila.”

Karena dirasa mampu memberi arah bagi generasi muda, kata rilis tersebut, maka pada tanggal 31 Maret 2010, “Kota Bekasi akan diresmikan menjadi Kota Pancasila.” Mengapa Kota Bekasi dijadikan Kota Pancasila? “Sebab Kota Bekasi memiliki Sekolah Terbuka Pancasila paling banyak di Indonesia, jumlahnya mencapai 63 sekolah,” ujar Ketua Umum Pengurus Karang Taruna Nasional Dody Susanto.

Sebagai sejarawan lulusan Jurusan Sejarah Universitas Indonesia yang menggeluti sejarah Bekasi sejak masa Tarumanagara, saya mempertanyakan dan menggugat argumentasi pergantian Kota Patriot menjadi Kota Pancasila. Menurut saya, di manapun, sebuah kota yang memiliki julukan tertentu harus sesuai dengan kekhasan budaya dan nilai-nilai sejarah yang pernah dan sedang terjadi di wilayahnya, bukan dibuat berdasarkan angan-angan di masa depan.

Sejarah menunjukkan bahwa Soekarno terinspirasi Pancasila saat diasingkan ke Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 1936-1938. Lantas, konsep Pancasila tersebut dirumuskan dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) di Pejambon, Jakarta, pada 29 Mei-1 Juni 1945.

Jelaslah, inspirasi dan perumusan Pancasila bukan di Bekasi, melainkan di Ende dan Jakarta. Jika tetap dipaksakan, itu namanya ahistoris, tidak berdasarkan fakta sejarah. Kalaulah gagasan mulia Mochtar dan Dody tersebut dijadikan julukan suatu kota, maka yang paling tepat adalah Ende dan Jakarta. Adapun Bekasi lebih tepat dengan julukan Kota Patriot, karena Bekasi benar-benar medan laga untuk menyabung nyawa para pejuang patriot, terutama pada masa revolusi atau perang kemerdekaan 1945-1949.

Bekasi merupakan front terdepan pertahanan Republik Indonesia. Para patriot dari Bekasi dan berbagai daerah, berhadapan langsung dengan tentara Sekutu-Inggris dan Nederlandsch Indië Civil Administratie (NICA) yang bermarkas di Jakarta. Bekasi kuat, maka Indonesia kuat. Bekasi bobol, maka Indonesia bobol.

Itu terbukti dalam sejarah. Lagu “Melati di Tapal Batas” ciptaan Ismail Marzuki, sajak “Krawang Bekasi” karya Chairil Anwar, dan “Di Tepi Kali Bekasi” karya Pramoedya Ananta Toer, adalah bukti kepatriotan para pejuang di Bekasi. Lebih dari itu, julukan Kota Patriot sudah menjadi sesanti dalam lambang Kota Bekasi berdasarkan Peraturan Daerah nomor 01 tahun 1998 tentang Lambang Kota Bekasi.

Bola salju terus bergulir. Ketua Lembaga Adat Badan Kekeluargaan Masyarakat Kota Bekasi (BKMKB) Rahmat Effendi menentang rencana penggantian Kota Patriot. “Saya berada di lapisan paling depan untuk menolak gagasan penggantian Kota Patriot menjadi Kota Pancasila,” kata Rahmat dalam pertemuan dengan sejumlah tokoh Bekasi pada Selasa, 9 Maret. “Wacana Kota Bekasi sebagai ideologi bangsa tidak perlu dijadikan ikon sekelas Kota Bekasi, karena sudah menjadi bagian kehidupan berbangsa dan bernegara,” kata Rahmat yang juga wakil wali Kota Bekasi.

Ketua Umum Badan Kekeluargaan Masyarakat Bekasi (BKMB) Bhagasasi Akhmad Zurfaih juga menolak penggantian Kota Patriot menjadi Kota Pancasila. “Mochtar nggak ngerti sejarah Bekasi. Itu (Kota Patriot menjadi Kota Pancasila) namanya ngedablek,” kata Zurfaih saat bertemu Rahmat pada Jumat (12/3).

Karang Taruna Kota Bekasi ikut tersinggung dengan langkah Dody yang dinilai melakukan intervensi. “Intervensi Ketua Karang Taruna Pusat, Dody Susanto, mengenai konsep Kota Bekasi sebagai Kota Pancasila tidak akan sedikitpun menggoyahkan keyakinan kami untuk mengawal dengan sungguh-sungguh Kota Bekasi sebagai Kota Patriot,” kata Ketua Karang Taruna Kota Bekasi Nasrullah.

Membaca kian resahnya masyarakat Kota Bekasi terhadap pernyataan Mochtar dan Dody, BKMKB dan BKMB Bhagasasi menggelar rapat gabungan di One Center pada Kamis (18/3). Mereka merekomendasikan agar Mochtar dan Dody melakukan klarifikasi sekaligus meminta maaf kepada masyarakat Bekasi. Kedua lembaga adat ini juga akan melakukan hearing dengan DPRD Kota Bekasi untuk mengandaskan gagasan tak populis ini.

“Kami menolak ini, bukan berarti kami menentang ideologi Pancasila,” kata Sekretaris Jenderal BKMB Bhagasasi Abdul Khoir (Radar Bekasi, 19/3). Rencana hearing BKMBK dan BKMB Bhagasasi direspon Ketua DPRD Kota Bekasi Azhar Laena. Sebelum hearing Azhar menyatakan tidak setuju dengan rencana pergantian julukan Kota Patriot menjadi Kota Pancasila.

“Sebagai Ketua DPRD Kota Bekasi pastinya saya sangat tidak setuju dan tidak semudah membalik telapak tangan untuk mengubah sesanti, julukan kota apapun dan kabupaten manapun itu,” katanya (Radar Bekasi, Sabtu, 20/3).

Tokoh masyarakat Bekasi Abdul Hadie yang tidak setuju meminta kepada Mochtar dan Dody agar mengurungkan niatnya. Dia menyarankan agar mereka berkaca kepada perjuangan Nabi Muhammad SAW. Menurut Hadie, Nabi Muhammad berdakwah di Mekah selama 13 tahun dan di Madinah selama 10 tahun dengan senjata Al-Qur’an. “Tapi tidak lantas Kota Mekah dan Madinah memiliki julukan Kota Al-Qur’an,” kata Hadie melalui pesan pendek, Jumat (19/3).

Kedua kota itu memiliki julukan sendiri, “Kota Mekah julukan Almukarromah, dan Kota Madinah julukannya Munawwaroh,” kata Hadie. Melihat contoh itulah, kata dia, Pancasila sebagai ruhnya falsafah negara Republik Indonesia tidak perlu dijadikan julukan Kota Bekasi. “Saat ini julukan Kota Patriot sudah sangat tepat. Mari kita pertahankan julukan tersebut sampai titik darah terakhir,” ujar mantan Ketua Umum KNPI Kota Bekasi itu.

Ganjalan juga mencuat dari Wakil Presiden Boediono dan Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh. Saat keduanya berkunjung ke SMA Negeri 1 Bekasi pada Jumat, 19 Maret, seorang pelajar mengajukan pertanyaan mengapa P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) tidak dipakai atau diajarkan lagi di sekolah.

Dengan santai Nuh mengasosiasikannya dengan bank. Dulu, kata Nuh, mengambil uang harus langsung ke kantor bank, tapi zaman sekarang cukup dengan ATM. “Artinya, tidak mesti kembali ke P4, karena Pancasila sudah menjadi way of life bangsa Indonesia,” kata Nuh seperti dikutip seorang pejabat Kota Bekasi melalui pesan pendek yang saya terima Sabtu, 20 Maret. Adapun Boediono berpesan, yang paling penting, “Jadilah generasi yang memiliki karakter, contohnya jujur”.

Meski digempur dari berbagai penjuru, kandaskah gagasan Mochtar dan Dody? Tampaknya, semua pihak tidak bisa percaya begitu saja dengan pernyataan Mochtar. Karena, meski pada satu sisi dia menegaskan tidak ada ide mengganti Kota Patriot menjadi Kota Pancasila, namun pada sisi lain dia punya gagasan mengolabirasi Patriot dengan Pancasila.

“Jika nilai Pancasila sudah tumbuh subur di Kota Bekasi, bisa juga Kota Bekasi mendapat sebutan baru Kota Patriot Berpancasila atau Kota Patriot yang memiliki nilai-nilai Pancasila,” kata Mochtar (Radar Bekasi, 18/3). Kita lihat saja, apakah saat peresmian pada 31 Maret Mochtar dan Dody akan konsisten dengan Kota Pancasila atau menggugurkan gagasannya sehingga tetap kepada Kota Patriot.

Ali Anwar, Sejarawan Bekasi
alianwar65@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: