NGALOR-NGIDUL BEKASI: Bung Chairil, Kenapa Bukan Bekasi-Krawang? (Radar Bekasi, Kamis, 25 Maret 2010)


Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

Ingat julukan Kota Bekasi sebagai Kota Patriot, saya jadi teringat Chairil Anwar. Penyair berdarah Minangkabau kelahiran Medan, Sumatera Utara, pada 1922 itu amat melekat di lubuk sanubari masyarakat Bekasi dan Karawang. Ini gara-gara sajak legendarisnya, “Krawang-Bekasi.” Selanjutnya, kata “Krawang” dalam judul sajak tersebut saya pertahankan, untuk menunjukkan orisinalitas tulisan sang pencipta.

Setiap hari kemerdekaan Republik Indonesia dan hari ulang tahun Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi, generasi muda kedua wilayah ini mementaskan sajak “Krawang-Bekasi.” Nama Chairil Anwar juga diabadikan menjadi nama jalan di Kota Bekasi yang menyatu dengan Jalan Mad Nuin Hasibuan, Jalan KH Noer Alie, dan Jalan Tarum Barat. Para pejuang ’45 dan pemerintah membangun monumen Perjuangan Rakyat Bekasi di kompleks Gelanggang Olahraga Kota Bekasi, lengkap dengan cuplikan sajak “Krawang-Bekasi.”

Mengapa Bung Chairil menggambarkan kedahsyatan perang kemerdekaan 1945-1949 di Bekasi hingga Karawang dengan memakai judul “Krawang-Bekasi,” bukan “Bekasi-Krawang”? Ini pertanyaan entah keberapa yang menghunjam telinga dan benak saya. Mungkin belasan, mulai yang serius hingga bernada seloroh.

Pertanyaan yang paling menohok pernah diutarakan sejarawan senior dan Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia, Prof. Dr. Taufik Abdullah. “Mengapa Krawang-Bekasi, bukan Bekasi-Krawang?,” kata Taufik Abdullah dalam seminar tentang KH Noer Alie di Kabupaten Bekasi pada 2006.

Pria kelahiran Bukti Tinggi, Sumatera Barat, itu mengungkapkan, dirinya sempat terheran-heran saat pertama kali naik kereta api dari Jakarta ke menuju Jogjakarta, untuk mendaftar kuliah di Jurusan Sejarah Universitas Gadjah Mada pada 1950-an.

Berbekal sajak “Krawang-Bekasi,” Taufik menduga selepas dari Jakarta, kereta akan melintasi Stasiun Karawang, baru kemudian Stasiun Bekasi. “Ternyata saya terkecoh. Rupanya Bekasi dulu, baru Karawang,” ujarnya. “Mengapa Krawang-Bekasi, bukan Bekasi-Krawang?,” ujar Taufik lagi.

Menurut saya, sajak Krawang-Bekasi lahir dari sudut pandang pribadi Chairil Anwar yang pada masa revolusi fisik berjuang dan menetap di Karawang. Seniman Senen, Jakarta, itu ikut hijrah bersama-sama tentara reguler dan non reguler ke wilayah Republik Indonesia yang berada di sebelah timur Jakarta pada akhir 1945.

Saat itu Jakarta merupakan wilayah Sekutu dan Nederlandsch Indië Civil Administratie (NICA). Adapun Bekasi, Tambun, Cikarang, Lemahabang, Kedunggede, Karawang, Cikampek, dan seterusnya, merupakan wilayah Republik Indonesia.

Tidak lama tiba di Karawang, Chairil Anwar yang dikenal flamboyan itu menikahi Hafsah, gadis asli Karawang. Karena menetap di Karawang itulah, sehingga Chairil menjadikan Karawang sebagai pusat sudut pandangnya untuk berpikir, menggagas, dan melangkah. Sehingga, bila dia hendak ke Bekasi, maka dia harus menapak dari Karawang terlebih dahulu, bukan dari Jakarta.

Dalam skenario (film) Sjumandjaya berjudul “Aku” (Grafiti Pers, 1987), betapa Chairil Anwar menjadikan Karawang sebagai pusat titik pandangnya. Lihatlah pada sine 105-106, tatkala Bekasi dibombardir Belanda, Chairil Anwar dan Hapsah yang sedang di jalan depan rumahnya (Karawang), “Kelihatan gerakan laskar dan tentara ke arah Bekasi”.

Pada sine 107, Sjumandjaya menulis, Chairil sudah muncul di pertahanan Bekasi. Maka, untuk pertama kali kita melihat di sini, wajah Chairil yang tidak seenaknya. Tampak sekali wajah itu terpengaruh, terpukul, dan teraniaya mengaksikan: “…mayat-mayat yang bergelimpangan di arus air sungai, di tebing, di jembatan-jembatan, di rawa-rawa, di atas pohon, atau di atas truk-truk dan pedati yang terbakar, di mana-mana.” Semuanya itu, “Dilihat dengan mata kepala Chairil sendiri sepanjang perjalanan dari Karawang sampai Bekasi.”

Dari sini menunjukkan, sebagai penulis skenario dan sutradara film, Sjumandjaja mencoba memasuki relung jiwa Chairil Anwar yang memandang dunia dari Karawang. Kalaulah Chairil Anwar selama perang kemerdekaan menetap di Jakarta atau Bekasi, mungkin judul sajaknya bukan “Krawang-Bekasi,” melainkan “Bekasi-Krawang”.

Memang, sajak tersebut dibuat di Jakarta pada 1948-1949, tatkala dia memutuskan lebih baik “hijrah” ke basis pertahanan musuh, Jakarta, ketimbang Jogjakarta, Jawa Tengah, dan Banten. Namun, karena inspirasi perang diambil saat dia menetap di Karawang, maka tetap saja Karawang ditempatkan di posisi depan dan Bekasi di posisi belakang.

Sudut pandang ini juga diperkuat oleh persepsi para pejuang yang menjadikan Karawang sebagai pusat pengaturan strategi pertahanan, sedangkan Bekasi sebagai front pertahanan terdepan. Itu sebabnya, para pejuang dan penerusnya menjuluki Karawang sebagai “Kota Pangkal Perjuangan,” sedangkan Bekasi sebagai “Kota Patriot.”

Ali Anwar, Sejarawan Bekasi
alianwar65@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: