NGALOR-NGIDUL BEKASI: Berebut Julukan Kota Patriot (Radar Bekasi, Rabu, 12 Maret 2010)

Setiap kali memandangi lambang Kota Bekasi, saya selalu teringat masa-masa menjadi salah seorang juri sayembara lambang Kota Bekasi pada 1997. Salah satu pembahasan yang dilakukan juri adalah mengenai julukan dan sesanti Kota Bekasi. Berbagai usulan meluncur, mulai Kota Iman, Kota Ihsan, Kota Perjuangan, hingga Kota Patriot. Setelah melalui perdebatan yang tidak terlalu panjang, tim juri yang diketuai Paray Said itu akhirnya sepakat memakai “Kota Patriot”.

Kesepakatan dewan juri tersebut lantas disampaikan kepada Wali Kota Madya Bekasi Khailani AR dan DPRD. Setelah diketok DPRD, jadilah Peraturan Daerah Kota Bekasi nomor 01 tahun 1998 tentang Lambang Kota Bekasi. Dalam perda tersebut menerakan bahwa sesanti “Kota Patriot“ mengandung arti “Semangat pengabdian dalam perjuangan bangsa.” Adapun Kota Ihsan menjadi visi Kota Bekasi yang memiliki kepanjangan “Indah, Harmonis, Sejahtera, Aman dan Nyaman”.

Dari semua usulan yang masuk, saat itu saya lebih sreg dengan Kota Patriot dan Kota Perjuangan. Kata “Patriot” dan “Perjuangan” sama-sama memiliki makna yang kagak jauh-jauh amat. Buku “Kamus Besar Bahasa Indonesia” terbitan Balai Pustaka, menerangkan bahwa “Patriot” adalah pencinta (pembela) tanah air.

Sikap seseorang yang bersedia mengorbankan segala-galanya untuk kejayaan dan kemakmuran tanah airnya disebut patriotisme. Adapun “Perjuangan” mengandung makna peperangan atau perkelahian merebut kemerdekaan, usaha yang penuh dengan kesukaran dan bahaya.

Kedua kata ini bukan tanpa alasan. Bekasi memang benar-benar medan laga untuk menyabung nyawa para patriot atau pejuang, terutama pada masa revolusi atau perang kemerdekaan 1945-1949.

Cakung yang saat itu masih masuk dalam wilayah Kewedanaan Bekasi (sejak 1976 Cakung bersama Cilincing dan sebagian Pondok Gede “dicaplok” Jakarta), merupakan front terdepan pertahanan Republik Indonesia. Para pejuang dari Bekasi dan berbagai daerah, berhadapan langsung dengan tentara Sekutu-Inggris dan Nederlandsch Indië Civil Administratie (NICA) yang bermarkas di Jakarta.

Namun, “Kota Perjuangan” harus mengalah dengan “Kota Patriot”. Alasannya, selain “Kota Patriot” sudah didengungkan sejak lama, kata “Perjuangan” sudah dimiliki Kabupaten Karawang yang berjuluk “Kota Pangkal Perjuangan”.

Nah, dari sinilah saya jadi teringat cerita para pejuang angkatan ’45. Bermula pada 1984, tatkala saya melakukan penelitian sejarah Bekasi Dibom Sekutu 13 Desember 1945. Ketita itu, pejuang Cakung Aburrahim serta pejuang Bekasi M Husein Kamaliy dan Marzuki Hidayat (ayah saya), mengisahkan bahwa ketika Kabupaten Bekasi dipimpin Bupati Kepala Daerah Tingkat II Abdul Fatah (sebelum 1976), para pejuang Karawang berencana memberikan julukan Kabupaten Karawang sebagai Kota Patriot.

Mendengar kabar tersebut, para pejuang Bekasi tidak terima. Mereka mendatangi Bupati Bekasi Abdul Fatah. Pada kesempatan itu, mereka meminta agar julukan Kota Patriot tidak disandang Karawang, melainkan harus oleh Kabupaten Bekasi. Alasannya, ya, seperti yang saya uraikan di muka: Bekasi merupakan front terdepan pertahanan Republik Indonesia. “Sedangkan Karawang sebagai pusat atau pangkal komando perjuangan, sehingga Kabupaten Karawang lebih tepat dijuluki Kota Pangkal Perjuangan,” kata Abdurrahim.

Entah bagaimana ceritanya, tampaknya dilakukan diplomasi tingkat tinggi―belahan ini perlu dilakukan penelitian lebih serius–, maka perebutan julukan “Kota Patriot” pun adem. Yang jelas, julukan kabupaten Karawang benar-benar menjadi “Kota Pangkal Perjuangan,” sedangkan Kabupaten Bekasi menjadi “Kota Patriot”.

Menjelang perpisahan dengan induknya (Kabupaten Bekasi), Kota Admistratif Bekasi yang kemudian berubah statusnya menjadi Kota Madya Bekasi dan Kota Bekasi, Kota Bekasi membutuhkan lambang. Diselenggarakanlah sayembara lambang Kota Bekasi itu, yang salah satunya mencantumkan julukan “Kota Patriot” sebagai sesanti lambang Kota Bekasi. Adapun sesanti kabupaten Bekasi tetap “Swatantra Wibawa Mukti”.

Pelegalan julukan “Kota Patriot” menjadi sesanti Kota Bekasi pada 13 tahun lalu itu, kini amat terasa manfaatnya. Karena bersamaan dengan kian menyusutnya para pejuang dan saksi sejarah ’45, tidak sedikit generasi muda yang mempertanyakan keabsahan Kota Bekasi sebagai “Kota Patriot”. Semoga mencerahkan.

Ali Anwar, Sejarawan Bekasi
alianwar65@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: