NGALOR-NGIDUL BEKASI: Bekasi Kota Pancasila? (Radar Bekasi, Jumat, 12 Maret 2010)

Pada hari ulang tahun Kota Bekasi yang ke-13, 10 Maret 2010, saya kaget alang kepalang. Kaget, karena Wali Kota Bekasi Mochtar Mohamad bergerak amat cepat secepat kilat memproklamirkan niat, gagasan, dan ambisinya untuk mengganti julukan Kota Bekasi sebagai Kota Patriot menjadi Kota Pancasila.

Melalui media massa, terutama harian INDO.POS edisi Rabu (10/3) dengan judul “Dari Kota Patriot Jadi Kota Pancasila,” Mochtar menyampaikan pernyataannya kepada wartawan usai upacara tabur bunga di Taman Makam Pahlawan Bulak Kapal, Kota Bekasi, Selasa (9/3). Pergantian julukan ini, kata Mochtar, sebagai hasil kajian yang dilakukan sejak beberapa tahun silam.

Saat ini, kata dia, rebranding julukan itu sudah disetujui stake holder dan tinggal menunggu pengesahan DPRD. Mochtar menilai, esensi Kota Patriot dengan Kota Pancasila tidak jauh maknanya. Pria kelahiran Gorontalo, itu menilai perubahan julukan ini tidak menghilangkan kandungan historis dan budaya Kota Bekasi. “Makna kedua julukan itu tidak jauh berbeda,” kata Mochtar.

Sejak dulu, ujar dia, Kota Bekasi dalam sejarahnya disebut sebagai pelopor cita-cita proklamasi. Karena itu, penanaman jiwa ini sangat tepat. “Kita memiliki sejarah Proklamasi, kenapa tidak ditulis sebagai julukan kota ini,” ungkapnya.

Kalau ungkapan Mochtar yang dikutip media massa tersebut benar, saya sebagai sejarawan lulusan Jurusan Sejarah Universitas Indonesia yang menggeluti sejarah Bekasi sejak zaman Tarumanagara hingga kini, patut mempertanyakan sekaligus menggugat argumentasi Mochtar.

Di manapun, sebuah kota yang memiliki julukan tertentu harus sesuai dengan kekhasan budaya dan nilai-nilai sejarah yang pernah dan sedang terjadi di wilayahnya, bukan dibuat berdasarkan angan-angan di masa depan. Peristiwa bersejarah dan diterima sebagian besar publiklah yang membuat julukan sebuah kota jadi membanggakan. Bila tidak diterima, istilah orang Bekasi, mah, gagasan itu bakal mlepes, kempes, gabuk, kosong.

Sebagai contoh, Bandung dijuluki sebagai Kota Kembang, Kota Paris Van Java, dan Kota Bandung Lautan Api, karena memang terkenal dengan gadisnya yang cantik bagai kembang segar, udara yang sejuk dengan bangunan ala Eropa bagai Paris, dan terjadi peristiwa Bandung Lautan Api.

Daerah Istimewa Jogjakarta dijuluki Kota Pelajar, karena memang memiliki berbagai lembaga pendidikan ternama dan tua. Garut dijuluki Kota Dodol karena memiliki makanan khas dodol. Karawang dijuluki Kota Pangkal Perjuangan karena pusat komando pertempuran, sedangkan Kota Bekasi dijuluki Kota Patriot karena Bekasi benar-benar medan laga untuk menyabung nyawa para patriot, terutama pada masa revolusi atau perang kemerdekaan 1945-1949.

Bekasi yang pada masa itu masih berstatus kewedanaan, merupakan front terdepan pertahanan Republik Indonesia. Para patriot dari Bekasi dan berbagai daerah, berhadapan langsung dengan tentara Sekutu-Inggris dan Nederlandsch Indië Civil Administratie (NICA) yang bermarkas di Jakarta. Bekasi kuat, maka Indonesia kuat. Bekasi bobol, maka Indonesia bobol. Itu terbukti dalam sejarah. Lagu “Melati di Tapal Batas” ciptaan Ismail Marzuki, sajak “Krawang Bekasi” karya Chairil Anwar, dan “Di Tepi Kali Bekasi” karya Pramoedya Ananta Toer, adalah bukti kepatriotan para pejuang di Bekasi.

Kalau Mochtar mengklaim sejak dulu Kota Bekasi sebagai pelopor cita-cita proklamasi, yang patut dipertanyakan adalah kapan Bekasi pernah menjadi lokasi pembahasan cira-cita proklamasi? Siapa saja pelopornya? Buktikan. Sepanjang penelitian yang saya lakukan dan sejumlah referensi yang saya baca, Bekasi hanya menjadi daerah lintasan rombongan Soekarno-Hatta saat “diculik” dari Jakarta ke Rengasdengklok, Karawang, pada 16 Agustus 1945.

Setelah itu, Soekarno-Hatta kembali ke Jakarta, juga hanya melintasi Bekasi. Soekarno dan kawan-kawan membuat teks naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda (sekarang Museum Naskah Proklamasi, Jalan Imam Bonjol 1, Jakarta). Pembacaan naskah dilakukan di rumah Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56 (sekarang Jalan Proklamasi nomor 1) pada 17 Agustus 1945.

Adapun perumusan Pancasila dilakukan dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia Jakarta, pada 29 Mei-1 Juni 1945. Memang, pada masa Hindia Belanda, Pendudukan Jepang, sampai Republik Indonesia sebelum 1950, Bekasi masuk dalam wilayah Residensi Jakarta. Dengan demikian pada masa penjajahan Jepang, Bekasi bisa juga dikatakan sebagai bagian dari Jakarta. Tapi fakta sejarah menunjukkan bahwa sidang BPUPKI yang salah satu agendanya membahas Pancasila bukan di Bekasi, tapi di Pejambon.

Okelah Bekasi didekat-dekatkan dengan Soekarno, karena sang proklamator kemerdekaan itu pernah datang ke Bekasi pada akhir Oktober 1945. Tapi kehadirannya di Alun-alun Bekasi itu semata untuk menenangkan rakyat Bekasi yang ngamuk dan membunuh 90 orang Tentara Pendudukan Militer Jepang pada 19 Oktober 1945. Dengan menyimak fakta sejarah tersebut, menunjukkan bahwa gagasan cita-cita proklamasi maupun pancasila bukan terjadi di Bekasi, melainkan di Jakarta.

Mengenai klaimnya bahwa julukan Kota Pancasila untuk Kota Bekasi telah dikaji sejak beberapa tahun silam, Mochtar harus menunjukkan siapa dan lembaga apa yang melakukan penelitian sampai-sampai berkesimpulan bahwa Kota Bekasi lebih layak dijuluki Kota Pancasila ketimbang Kota Patriot.

Kalau benar-benar ada, silakan penelitinya cukup berhadapan dengan saya. Itupun kalau tidak berani berhadapan dengan para pejuang ’45, eksponen ’66, dan lembaga adat semacam Badan Kekeluargaan Masyarakat Bekasi (BKMB) Bhagasasi, Badan Kekeluargaan Masyarakat Kota Bekasi (BKMKB), Laskar Patriot BKMB Bhagasasi, dan tokoh masyarakat lainnya.

Begitu pula dengan klaim rebranding julukan Kota Pancasila yang katanya sudah disetujui stake holder. Siapa yang dimaksud Mochtar dengan stake holder? Apakah sudah berbicara dengan para pejuang tergabung dalam Legiun Veteran Republik Indonesia dan organisasi anak-anak pejuang, lembaga adat BKMB, BKMKB, Laskar Patriot, lembaga swadaya masyarakat, akademisi, sejarawan, budayawan?

Saya sependapat dengan Mochtar bahwa makna Kota Patriot dengan Kota Pancasila tidak jauh berbeda, karena para patriot yang berjuang di Bekasi juga untuk mengamankan sekaligus mengamalkan Pancasila. Tapi bukan artinya harus mengganti secara sembarangan julukan Kota Patriot yang telah diwariskan para pejuang kepada generasi muda Bekasi dengan nama lain. Kalau mau mengganti julukan Kota Patriot, silakan langkahi dulu mayat para pejuang ’45. Ini tidak bisa diartikan bahwa saya atau orang Bekasi anti Pancasila.

Dengan demikian, kalau julukan Kota Pancasila dipaksakan untuk mengganti Kota Patriot, justru bakal mengecilkan arti Pancasila, karena alasan-alasan yang dikemukakan Mochtar ahistoris. Saya setuju dengan pesan pendek yang disampaikan Ketua Adat Badan Kekeluargaan Masyarakat Kota Bekasi, Rahmat Effendi, yang saya terima pada Selasa (9/3) menjelang sore. “Wacana Kota Bekasi sebagai ideologi bangsa tidak perlu dijadikan ikon sekelas Kota Bekasi, karena sudah menjadi bagian kehidupan berbangsa dan bernegara”. Retorika Bekasi, Rahmat menambahkan, “Tidak terlepas dari nilai kejuangan leluhur memperjuangkan Bekasi dari penjajah Belanda dan Jepang. Retoritu bisa diabadikan dengan berdirinya Tugu Monumen di Jembatan Kali Bekasi”.

Mengingat gagasan besar Mochtar tersebut amat mulia, saya menyarankan sebaiknya julukan Kota Pancasila diberikan kepada daerah yang tepat secara historis, yakni Jakarta. Itupun kalau Jakarta siap mengembannya. Alasanya, gagasan mulia bisa datang dari siapapun dan dari daerah manapun, seperti halnya Mochtar Mohamad yang diterima masyarakat Bekasi sebagai wali kota Bekasi, meski beliau berasal dari daerah yang berada di sebelah utara Pulau Sulawesi, Gorontalo.

Ali Anwar, Sejarawan Bekasi
alianwar65@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: