Candrabhaga, Kok, Jadi Bekasi (Ngalor-ngidul Bekasi, Radar Bekasi, Senin, 1 Februari 2010)

Seorang siswa sekolah menengah atas bertanya kepada saya, “Bagaimana jalan ceritanya kata Candrabhaga menjadi Bekasi?”. Alasannya, kata keduanya amat berbeda. “Kan jauh banget,” katanya. Secara jujur saya mengatakan, sebagai sejarawan saya tidak memiliki kapasitas menjawab, karena tidak melakukan penelitian mendalam tentang asal-asal usul kata tersebut.

Karena selama kuliah tidak diajarkan secara khusus mengenai perubahan nama tempat dari A menjadi B atau A1 menjadi A2. Yang berkompeten, kata saya, adalah filolog: ahli ilmu tata bahasa, kebudayaan, pranata, dan sejarah suatu bangsa sebagaimana terdapat di bahan-bahan tertulis. Objek penelitian filologi adalah naskah yang berisikan teks-teks kuno hasil karya dan pemikiran masyarakat zaman dahulu. Filolog pun harus dibantu dengan ilmu ilmu lain, diantaranya etimologi atau ilmu yang mempelajari asal-usul kata dan sejarah kata.

Namun, karena di dalam buku “Sejarah Bekasi Sejak Purnawarman sampai Orde Baru”– penulis utamanya saya—yang diterbitkan Pemerintah Kabupaten Bekasi dan Yavitra pada 1992 mencantumkan perubahan nama Candrabhaga menjadi Bekasi, mau tidak mau saya harus menjelaskannya.

Saya katakan, perubahan kata dari Candrabhaga menjadi Bekasi pertama kali dilontarkan Prof. Dr. R. Ng. Poerbatjaraka, pada 1951. Ahli filologi Universitas Indonesia itu menyatakan, Bekasi berasal dari kata Candrabhaga, nama sungai yang dibangun pada abad ke-5 Masehi oleh Raja Tarumanagara bernama Rajadhiraja Yang Mulia Purnawarman. Data tersebut tertera dalam Prasasti Tugu, Cilincing, Jakarta Utara.

Kata Candrabhaga dibagi menjadi dua, yakni Candra yang berarti “bulan” dan Bhaga berarti “bahagia”. Kata Chandra dalam bahasa Sanskerta sama dengan kata Sasi dalam bahasa Jawa kuno, sehingga nama Candrabhaga identik dengan kata Sasibhaga, yang apabila diterjemahkan secara terbalik menjadi Bhagasasi. Atas dasar itulah, Poerbatjaraka menafsirkan Kali Candrabhaga identik dengan Kali Bekasi.

Lantas, “Bagaimana ceritanya Bhagasasi menjadi Bekasi?,” kata si siswa. Saya katakan, Perbatjaraka tidak menjelaskan lebih lanjut. Hingga saat ini, kata saya, belum ada ahli filologi, ahli sejarah, maupun ahli arekologi yang menelusuri secara serius.

Meski demikian, dari hasil penelusuran terhadap arsip, buku, dan penanda lokasi, sejak 1980-an, saya menemukan nama Bekasi yang berbeda dari satu masa dengan masa yang lain. Sebagai contoh, dalam beberapa arsip abad ke-19 kerap ditulis “Bakasie”, “Bekasjie”, dan “Bekasie”. Adapun pada awal Abad ke-20 terdapat tulisan “Bekassi” dan “Bekasi”. Apakah kata-kata ini sebagai jembatan dari kata Bhagasasi menjadi Bekasi? Mungkin saja. “Pemerintah Kabupaten Bekasi dan Kota Bekasi harus meminta bantuan ahli filologi untuk menelitinya, agar danta,” kata saya.

Ali Anwar, Sejarawan
alianwar65@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: