Mati Diseret Lembu Kali Bekasi (Ngalor-Ngidul Bekasi, Radar Bekasi, Senin, 22 Februari 2010)

“Awas, ati-ati (hati-hati) mandi di kali, entar diseret lembu”. Peringatan berulang-ulang yang disampaikan ibu saya—dan juga orangtua kebanyakan–pada 1970-an itu selalu terngiang-ngiang sampai sekarang. Kalau sudah mendengar peringatan seperti itu, saya dan teman-teman selalu menjadi berhati-hati bila mandi di Kali Bekasi.

Sambil mencoba menuruti peringatan itu, saya kadang bertanya dalam hati, “Sejenis apakah lembu yang menakutkan di Kali Bekasi itu?” Tapi selalu tidak memperoleh jawaban yang memuaskan. Dari buku-buku yang saya baca dan guru-guru yang memberikan pengetahuan ketika itu, selalu mendefinisikan lembu sebagai hewan sejenis sapi atau sama dengan sapi.

“Kok lembu hidup di sungai? Kan lembu adanya di darat, narik gerobak padi?” kata saya. Malahan beberapa teman saya bilang, lembu itu semacam dedemit atau hantu penguasa kali. Kalau kita nggak hati-hati atau angkuh saat mandi, sang lembu bakal marah dan menyeretnya sampai ke dasar kali. Kalau tidak segera diselamatkan, dua hari kemudian korban udah ngambang nggak bernyawa.

Itu sebabnya, kalau ada orang mati tenggelam di Kali Bekasi, selalu dikatakan diseret lembu. Persoalannya, apakah lembu itu sebuah kenyataan, dongeng, atau legenda? Meski kuliah di jurusan sejarah, saya belum memperoleh jawaban pasti dan memuaskan. Saya agak terhibur tatkala mengikuti kelas Ayat Rohaedi, arkeolog Universitas Indonesia.

Menurut Kang Ayat, legenda itu bisa berasal dari cerita dongeng, namun ada pula yang berasal dari peristiwa yang benar-benar pada masa silam, namun selama berabad-abad dikemas menjadi cerita rakyat dan dipercaya secara turun temurun oleh masyarakat penganutnya.

Sejak saat itu saya menduga, yang dimaksud lembu dalam kepercayaan masyarakat Bekasi adalah benar-benar hewan lembu, bukan dedemit atau hantu. Kalaupun benar itu dedemit, mereka mempercayainya sebagai roh lembu yang gentayangan. Maklumlah, saat itu kepercayaan rakyat kepada takhayul amat kuat.

Dugaan ini mulai nyambung begitu saya membaca literatur mengenai prasasti Tugu. Prasasti Tugu ditemukan pada 1878 di Desa Tugu, Onderdistrik Cilincing, Kewedanaan Bekasi, Kabupaten Meester Cornelis (Jatinegara), Residensi Batavia. Saat pertama kali ditemukan, Prasasti Tugu menjadi benda batu yang disembah banyak orang. Mereka meletakkan sesaji di sekelilingnya.

Dalam prasasti berbahasa sanskerta dengan huruf pallawa pada abad ke-5 Masehi, itu menceritakan bahwa Raja Tarumanagara, Purnawarman, memerintahkan penggalian Sungai Candrabhaga. Sejumlah arkeolog dan ahli filologi menafsirkan, yang dimaksud Sungai Candrabhaga adalah Kali Bekasi.

Pada kalimat akhir dinyatakan, ”Saluran baru dengan air jernih bernama Gomati, mengalir sepanjang 6.122 busur melampaui asrama pendeta raja yang dipepundi sebagai leluhur bersama para brahmana. Para pendeta itu diberi hadiah seribu ekor lembu”. Mungkin Kang Ayat Rohaedi benar, lembu pada awalnya benar-benar hewan lembu, namun setelah menjadi cerita lisan selama berabad-abad, lembu menjadi legenda yang dipersepsikan sebagai dedemit oleh orangtua dan anak-anak yang mandi di Kali Bekasi.

Ali Anwar, sejarawan
alianwar65@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: