Kampung Buni Punya Pasar Emas (Ngalor-ngidul Bekasi, Radar Bekasi, Senin, 8 Februari 2010)

Perjalanan menelusuri bantaran Canal Bekasi Laut (CBL) menuju Kampung Buni, Buni Bakti, Babelan, Kabupaten Bekasi, pada enam tahun lalu memang mengasikkan. Meski badan jalannya masih berupa pasir-batu (selanjutnya mulus karena dicor), tapi udaranya yang bersih berhembus semriwing membuat hati nyaman.

Tiba-tiba, menjelang belokan menuju Kampung Buni, otak saya kontan memerintahkan kaki kanan agar menginjak rem belakang, tanda harus berhenti. Saya tertegun sekitar sepuluh menit begitu melihat plang nama jalan yang cukup unik: Jl. Pasar Emas.

Kepada seorang warga saya bertanya, “Emangnya di ujung jalan ini ada pasar emas?” Dia mengaku nggak begitu ngerti. “Katanya sih dulu pernah ada jual-beli emas harta karun. Tapi biar lebih jelas, tanya aja sama Pak Dogol,” katanya.

Sekitar 500 meter, saya menemui Pak Dogol di rumahnya, juga di pinggir Jalan Pasar Emas. Meski usianya 70 tahun, namun petani yang kulitnya menghitam bekas terpangang matahari, itu masih memiliki otot yang kuat. Tatapan matanya tajam, dan daya ingat yang masih kuat.

“Dinamain Jalan Pasar Emas, karena pada 1960-an di sekitar sini banyak ditemukan banyak emas. Harta karun itu dijual kepada pedagang emas dadakan yang datang dari kota,” ujar Dogol. Seiring habisnya temuan emas, meredup dan hilang pula transaksi jual-beli emas. “Sebagai kenang-kenangan, warga menamainya Jalan Pasar Emas,” katanya.

Sebagai sejarawan, saya amat tertarik. “Gimana ceritanya sampe ada harta karun ema?,” kata saya. Menurut Dogol, kisahnya bermula pada 1958. Ketika itu Dogol muda membuat kalenan atau kali kecil agar air dari Kali Bekasi bisa dialiri ke sawahnya. Tiba-tiba matanya melihat sebuah “kute” (anting) kecil yang ngonggok di bibir lubang binatang yuyu. “Ternyata itu kute emas 0,5 gram,” kata Dogol.

Temuan Dogol menghebohkan penduduk. Berharap ada kute-kute lain, mereka berbondong-bondong mencangkul tanah sekitar lokasi. “Astaghfirullah, pada kedalaman satu setengah meter, ditemukan ratusan kerangka manusia,” Dogol mengenang.

Berbeda dengan kerangka umat Muslim yang menghadap kiblat (barat), kerangka yang mereka temukan umumnya menghadap utara. Menunjukkan mereka menganut kepercayaan para leluhur. Pada setiap kerangka yang telah rapuh tersebut, selalu ada perhiasan emas dengan aneka bentuk yang menempel di leher, tangan, dan kaki. Pada bagian bawah kerangka, ada semacam besi panjang. Di sekelilingnya terdapat berbagai gerabah berisi emas, beliung persegi, sampai batu warna-warni.

Heboh. Ribuan orang dari Bekasi, Jakarta, Karawang, Bandung, hingga Jawa tengah dan Jawa Timur mengaduk-aduk tanah Buni. Emas yang ditemukan langsung dilego kepada para penadah dadakan yang membuat tenda darurat. Adapun berbagai gerabah bersejarah hancur lebur, beliung persegi dilempar kemana mereka suka.

Belakangan arkeolog menyatakan, semua itu merupakan peninggalan nenek-moyang orang Bekasi sekitar 2000 tahun silam. Mereka menamakannya sebagai Situs Buni. Yang tersisa kini masih banyak tersimpan di Museum Nasional, Jalan Merdeka Barat, Jakarta. “Sejak saat itulah jalan kampung ini dinamain Jalan Pasar Emas,” kata Dogol. Sebuah perjalanan yang mengasikkan: rekreasi plus dapat ilmu.

Ali Anwar, Sejarawan
alianwar65@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: