Hidup Pancasila, Barongsai Tiarap (Ngalor-ngidul Bekasi, Radar Bekasi, Senin, 15 Februari 2010)

Ada pemandangan unik di pasar-pasar utama Bekasi pada era 1970-an. Di setiap atas kusen pintu toko milik etnis tionghoa–mulai Pasar Bekasi (kemudian berganti nama menjadi Pasar Lama, Pusat Pertokoan Bekasi, dan Pasar Proyek), Pasar Kranji, Pasar Tambun, hingga Pasar Cikarang–selalu terpaku papan bercat hitam ukuran sekitar 20 senti meter kali 50 senti meter.

Setiap papan bertuliskan kalimat puja-puji dan tanda kesetiaan terhadap Indonesia dan Pancasila, diantaranya “Hidup Pancasila”, “Indonesia Negeriku, Pancasila Jiwa Ragaku”, “Kami Cinta Pancasila”, “Pancasila adalah Ideologi Kami”. Sebagai pelajar pribumi di sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama, kalimat pada papan tersebut menguatkan nasionalisme sekaligus membuat bagus nilai pelajaran civics dan pendidikan moral pancasila.

Setiap kali memandangi pesan-pesan kesetiaan itu, hati saya selalu bertanya: mengapa hanya ada di toko-toko atau rumah-rumah warga beretnis tionghoa? Mengapa di rumah saya dan rumah para tetangga yang bukan dari etnis tionghoa tidak terpasang? Beberapa orangtua, termasuk ayah saya, mengatakan ini akibat politik.

“Mereka dianggap berpihak kepada Soekarno yang menjalin hubungan dengan Peking, Republik Rakyat Cina,” kata ayah saya. “RRC itu komunis, sehingga pada saat terjadi G30S/PKI (Gerarakan 30 September/Partai Komunias Indonesia) pada 1965, orang Cina di Indonesia dianggap berpihak kepada komunis. Padahal tidak semuanya ikut-ikutan komunis,” katanya. Itu sebabnya, “Mereka harus menanggung getahnya”.

Mereka yang dianggap terlibat atau berhubungan dengan komunis diwajibkan lapor setiap senin dan kamis. Pada kartu tanda penduduk (KTP) mereka juga diberi tanda khusus: OT yang berarti organisasi terlarang. “Untuk menunjukkan kesetiaan kepada negara kesatuan Republik Indonesia dan pancasila, secara simbolis harus memasang papan nama tersebut,” ujarnya.

Pelarangan juga masuk sampai pada level yang paling asasi: Kong Hucu tidak diakui sebagai salah satu kepercayaan di Indonesia. Kesenian berbau Cina, juga dilarang, termasuk seni barongsai. Kesenian Tiongkok kuno yang diperkirakan masuk di Indonesia pada abad-17 dan berjaya pada masa Bekasi dikusai para tuan tanah Cina, kontan dilarang. Grup kesenian dan pemain barongsaipun tiarap.

Sejak awal reformasi, kehidupan warga tionghoa bergairah kembali. Bersamaan dengan direvitalisasinya Pusat Pertokoan Bekasi, rumah-rumah tua tionghoa ikut direnovasi. Pintu kayu berganti dengan pintu besi dan rollingdor. Papan kesetiaan terhadap Indonesia dan Pancasila tak terlihat lagi, entah disimpan sebagai bukti sejarah. Atau dibuang, karena kesetiaan sejati berada di dalam dada masing-masing.

Ajaran Kong Hucu diakui keberadaannya, dan kesenian barongsai bangkit kembali. Grup-grup barongsaipun bermunculan dan ditampilkan pada berbagai perhelatan. Bahkan pada 18 Januari 2010 Wali Kota Bekasi Mochtar Mohamad melepas grup barongsai Ching Lung untuk bertanding dalam Kejuaraan Barongsai Tingkat Internasional (International Dragon & Lion Dance Championship) di Hongkong pada 20-26 Januari 2010.

Ali Anwar, Sejarawan
alianwar65@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: