Endonan, Pejuang dan Pengkhianat (Ngalor-ngidul Bekasi, Radar Bekasi, Kamis, 4 Maret 2010)

Seorang teman, mantan anggota DPRD Kota Bekasi, menghubungi saya via telepon selular. Dengan nada bersemangat, dia mengabarkan akan membuat buku. “Saya pengen bikin buku tentang peran orang-orang dari suku saya yang mengabdi di Bekasi,” kata dia. Dalam hitungan detik, saya kontan menjawab. “Bagus, saya dukung dan siap bantu, pull…”.

Saya menilai, setidaknya ada dua pesan yang hendak disampaikan dari komunikasi singkat tersebut. Pertama, dia ingin menunjukkan bahwa siapapun orangnya dan asal-usul suku bangsanya, kaum endonan telah berperan dalam pembangunan di bumi Bekasi. Kedua, dia ingin mendapatkan pembenaran dan dukungan dari saya sebagai orang asli Bekasi.

Mengapa sebagai orang asli Bekasi saya memuji perantau itu sebagai langkah yang bagus, dan bahkan mendukung serta siap membantu? Padahal di satu sisi, ada sebagian teman yang juga asli Bekasi selalu menolak peran “orang luar” dalam kancah pembangunan Bekasi. Mereka inginnya, Bekasi dibangun oleh orang Bekasi asli, Bekasi dewek. Bukan kaum endonan.

Menurut saya, kedua versi ini kagak perlu dipertentangin. Alasannya, Bekasi sejak zaman baheula hingga kini dan mendatang, dibangun bukan hanya oleh kaum anshor, tetapi juga bersama-sama dengan kaum muhajirin. Memang, dulu saya kerap tidak menyukai kaum pendatang. Namun prasangka buruk saya itu langsung berbalik 180 derajat saat melakukan penelitian di Arsip Nasional Republik Indonesia, Cilandak, Jakarta, untuk keperluan skripsi di Jurusan Sejarah Universitas Indonesia.

Dalam arsip-arsip maupun regeeringsalmanak awal abad ke-20, tercantum nama-nama pejabat yang pernah bekerja di Kewedanaan Bekasi dan Kewedanaan Cikarang. Dari nama-nama pejabat yang tertera, saya berkeyakinan mereka banyak yang bukan orang Bekasi, karena ada yang bergelar raden, mas, dan sutan. Mengapa? Karena di Bekasi tidak ada kerajaan–kecuali pada masa Kerajaan Tarumanagara pada abad ke-5-7 Masehi–dalam struktur masyarakat Bekasi asli, tidak ada gelar-gelar yang identik dengan suku Jawa dan Sumatera itu.

Pejabat pada 1913, sebagai contoh, Wedana Bekasi dijabat oleh orang bergelar raden, namanya Raden Bachram. Wedana Cikarang bernama Merah Abdoel Moenit Galar Soetan Prmantjah. Jaksa Bekasi Mas Soetawidjaja, Assisten Wedana Cilincing Raden Aboebakar, Penghulu H Doelhamid, Mantri Polisi Mr Abdoel Djalil, Matri Opium Mh. Sapiie, Mantri Vaccinateur Mh. Moesanip, Kepala Sekolah Raden Soerjadilaga. Juga ada tuan tanah Cina dan administarturnya, seperti Oeij Tong Hin, Oeij Keng Hin, Tan Wie Siong, Khow Kim Siong, Lie Hin Lim, Khouw Wie Seng, Lie Bon Li, Ang Kong Pan, K.B. Han, Lim Tjang Hoeij, H.D. Thung, O.H. Khouw, dan K.K. Lauw.

Lantas, perang kemerdekaan 1945-1949 mencuatkan nama-nama orang Bekasi dan bukan orang Bekasi. Pejuang asal Bekasi diantaranya KH Noer Alie, M. Husein Kamaly, Burhanuddin Zakaria, Namin Abuchoir, Marzuki Alam, Marzuki Hidayat, Marzuki Urmaini, Angkut Abu Gozali, Jole Sulaeman. Adapun dari luar Bekasi ada Sambas Atmadinata, Lukas Kustaryo, Madnuin Hasibuan, Samosir, Anis Taminuddin, Moefreni Moe’min.

Paska perang kemerdekaan tercatat bupati dan kepala daerah yang juga berasal dari luar Bekasi dan asli Bekasi, seperti Raden Suhandan Umar, KH Noer Alie, Raden Sampoerno Kolopaking, RMKS Prawira Adiningrat, Nausan, Maun alias Ismaun, MS. Soebandi, Abdul Fatah, Suko Martono, Moch. Djamhari, Wikanda Darmawijaya, M. Saleh Manaf, Sa’duddin. Wali Kotanya adalah Soejono, Kaelani, Nonon Sonthanie, Akhmad Zurfaih, dan Mochtar Mohamad.

Adapun ketua DPRD Kabupaten Bekasi mulai Madnuin Hasibuan, M. Husein Kamaly, Hasyim Ahmad, Maun Al Ismaun, Bey Efendi, R. Supriyadi, Arsyad Baedlowi, Roesmin, Abdul Manan, Wikanda Darmawijaya, R. Sugiyono, Damanhuri Husein, Sa’duddin, Nuradi, Syamsul Falah, hingga Mustakim. Adapun Ketua DPRD Kota Bekasi adalah Gunarso Ismail, Ismail Ibrahim, Rahmat Effendi, Ashar Laena.

Dengan demikian, sejak dulunya Bekasi telah menjadi tempat bersemainya perbauran semua suku-bangsa, adat-istadat, dan agama. Itu belum termasuk berbaurnya pendatang pada masa Tarumanagara dan pasukan Mataram yang menetap di Bekasi sejak kalah perang pada 1629. Kini, Data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Bekasi memperlihatkan, dari 2,4 juta penduduk Kota Bekasi, setiap tahun masuk pendatang baru sekitar 6 persen atau setara dengan 144 ribu.

Bagi orang Bekasi yang menerima keberagaman tersebut, berharap kepada para para pendatang agar sejak awal berlaku baik dan menghargai adat-istiadat Bekasi. Kata orang minang, mah, di mana bumi dipijak di situ bumi dijunjung. Kalau yang begini, pasti akan dijadikan pejuang. Tapi kalau malah membikin sengsara rakyat, tentu ditolak, sekagaknya bakal tercatat dalam sejarah Bekasi sebagai pengkhianat atau pecundang. Mudah-mudahan, orang-orang yang berada dalam buku teman saya itu masuk katagori pejuang.

Ali Anwar, Sejarawan
alianwar65@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: