Bocah Cina Bertaucang di Klenengan (Ngalor-ngidul Bekasi, Radar Bekasi, Senin, 1 Maret 2010)

Festival Budaya Kota Bekasi pada Minggu, 21 Februari, lalu masih dalam suasana Tahun Baru Imlek. Tak heran kalau pagelaran yang bersamaan dengan Hari Bebas Kendaraan Bermotor atau Car Free Day, itu menampilkan budaya beraroma negeri Cina. Bagi saya, yang menarik bukan hanya kesenian barongsai, tetapi juga souvenir mainan khas anak-anak berbentuk gendang mini. Pada sebelah kiri dan kanan gendang terdapat benda bulat yang tersambung dengan tali.

Di bagian bawah gendang tertancap gagang, mirip pukulan bedug. Bila gagang dipilin menggunakan tangan, benda bulat itu akan bergoyang-goyang dan kontan memukul gendang mini. Dari bunyinya, benda tersebut kerap disebut sebagai “klenengan” atau “klonongan”.

Biasanya, “klenengan” atau “klonongan” berbahan kayu polos. Tapi souvenir kali ini berbahan plastik warna merah dengan ukiran bunga pada gendangnya dan naga menjulur pada gagangnya bertuliskan “Made In China”. Anak saya yang senang memainkannya, sempat terpingkal-pingkal ketika menelisik gambar pada kulit gendang: bocah lelaki gendut setengah telanjang dengan rambut panjang yang ujungnya diikat seperti ekor kuda.

Saya terangkan, rambut panjang diikat itu namanya taucang atau kuncir. Sejarah Cina mencatat, taucang pada pria Tionghoa menjadi tren mode pada zaman dINASTI Qing (1644-1911). Berawal dari tradisi orang Manchuria dan Mongol yang mahir berkuda. Agar mudah bergerak, mereka membotakkan rambut bagian depan, sedangkan rambut bagian belakang yang dipanjangkan tersebutditaucang seperti membuat tambang, lantas diikat pada bagian ujungnya.

Orang Cina yang bertaucang di Indonesia, umumnya datang pada abad ke-18 sampai awal abad ke-20. Pada awal abad ke-20, tokoh politik Cina, Sun Yat-sen, melancarkan penolakan terhadap tradisi taucang. Dia dan pendukungnya menganggap taucang sebagai simbol kelemahan penguasa Dinasti Qing yang dikuasai bangsa Barat. Itu sebabnya, setelah berhasil menumbangkan Dinasti Qing melalui revolusi Xinhai dan pada 1911, Sun Yat-sen langsung melarang tradisi taucang.

Beberapa tahun menjelang revolusi Xinhai, kaum Tionghoa di Indonesia berdebat sengit mengenai perlu tidaknya taucang dipotong. Orang Tionghoa yang pro revolusi, secara araktif memotong taucangnya, termasuk Lie Hin Liang, tuan tanah Babelan, Kewedanaan Bekasi, Regenschaap Meester Corneelis, Residensi Batavia. Lie Hin Liang memotong taucangnya pada 1904, seperti diwartakan surat kabar “Bintang Betawi” pada 20 Oktober 1904:

“Kemaren doeloe luitenant Lie Hin Liang, toean tanah Bebelan soedah lepas tawtjangnja. Begitoepoen bebrapa antara orang orangnja soedah mengikoet, dan selainnja marika itoe, di hari kemaren doea orang pegawe ditoko Tio Tjeng Joe, joega sianseng Kwee Hong Kin, dan sianseng Tan Tjoen Hian soedah boeang djoega tawtjangnja.

Tindakan pemotongan taucang ini mendapat protes keras dari kelompok yang mempertahankan tradisi taucang. Pada “Bintang Betawi” 21 Oktober 1904. Kelompok ini menilai memotong taucang sebagai perbuatan keliru. Alasannya, kepala sebagai tempat tumbuhnya rambut merupakan “Seng Siok Tjeng” dan “Soe Koei Beng”. Artinya, hidup merupakan turut “Tjeng Tiauw” dan mati merupakan pulang asalnya “Beng Tiauw”.

Atas dasar itulah, “Ramboet itoe saoemoernja kita orang dilahirken oleh iboe kita di dalam doenia, kita hidoep maka ramboet itoe menoeroet djoega oemoernja kita?” Jika orang dengan gampangnya memotong taucang, dinilai akan menyesal karena diumpamakan memotong umur manusia. Bagi mereka, rambut sama dengan organ tubuh lain, sebagai ciptaan Tuhan yang tidak boleh dipotong. “..apakah penoelis maoe potong penoelis poenja idoeng jang dilahirkennja sama-sama penoelis,” katanya menyindir dengan nada kesal.

Kini, pelarangan taucang sudah berlangsung satu abad. Tapi kenapa pengusaha dan pemerintah Cina di era perdagangan bebas atau Free Trade Area China-ASEAN memproduksi “klenengan” bergambar bocah lelaki gendut setengah telanjang dengan rambut panjang ditaucang? Apakah ini merupakan kerinduan pada tradisi Dinasti Qing atau hanya sebatas lucu-lucuan? Entahlah.

Ali Anwar, Sejarawan
alianwar65@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: