Bekasi, Ya Proyek (Ngalor-ngidul Bekasi, Radar Bekasi, Kamis, 4 Februari 2010)

Setiap kali teman dari luar Bekasi–yang sedikit tahu seluk-beluk Bekasi– bertanya tempat tinggal, secara spontan saya selalu menjawab, “Bekasi”. Belum cukup, mereka butuh ketegasan, dengan pertanyaan, “Bekasi Barat atau Bekasi Timur?” Kalau sudah begini, saya harus memberi waktu tambahan untuk menerangkan, termasuk mendetailkan rute, plus peta sketsa.

Saya jelaskan, untuk sampe ke Bekasi, selepas gerbang tol Bekasi Barat yang ada Metropolitan Mal dan Mega Bekasi Hypermal atau Giant, belok kiri nyusurin Jalan Ahmad Yani. Mentok di SPBU dekat kompleks Pemerintah Kota Bekasi, belok kanan nyusurin Jalan Juanda, melewati Stasiun Bekasi, Bulan-bulan (bekas patung lele), jembatan Kali Bekasi, dan Pusat Pertokoan Bekasi. “Itulah Bekasi,” kata saya. “Bukan, itu Proyek!,” kata dia. Saya pun mengangguk, karena pendapat dia ada benarnya.

Sebagai warga Bekasi yang lahir dan berkembang di sekitar Pasar Proyek sejak era 1960-an, saya melihat telah terjadi pergeseran yang begitu cepat terhadap pola pandang peta Bekasi. Tampaknya, gerbang tol “Bekasi Barat” dan “Bekasi Timur” telah menjadi penanda “Bekasi” sejak dioperasikannya jalan tol Jakarta-Cikampek pada 1988.

Padahal, sebelum dibangunnya jalan tol, “Bekasi” adalah “Pasar Proyek”. atau “Pusat Pertokoan Bekasi”. Tempo dulu, orang-orang kalau disebut Bekasi sudah pasti paham bahwa letak Bekasi adalah di Pasar Proyek, bukan Kranji, bukan Buaran, bukan Pondok Ungu, bukan Tambun, bukan Cikarang. Bahkan peta beberapa abad silam, menunjukkan “Bekasi” adalah “Pasar Proyek” sekarang.

Di sana ada perempatan yang jalan rayanya mengarah ke empat penjuru: Timur menuju Tambun, Cibitung, Cikarang, Karawang, sampai Semarang-Surabaya. Barat Kampung Duaratus, Kranji, Pondok Ungu, Cakung, dan Pulogadung. Utara menuju Teluk Angsan, Gabus, Babelan, Tarumajaya, Muaragembong. Selatan menuju Poncol, Rawa Lumbu, Bantargebang, Cileungsi, Cibinong, dan Bogor.

Jalan Juanda yang kini satu arah, dulu dua arah dan menjadi urat nadi lalu-lintas nasional sebelah utara Pulau Jawa. Bus dan truk antarkota antarprovinsi (AKAP) dari Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, yang hendak ke Jakarta, dipastikan melintasi Bekasi. Setelah 1988, kendaraan beralih ke jalan tol. “Bekasi” seakan tergilas oleh “Bekasi Barat”, “Bekasi Timur”, dan “Proyek”.

Ali Anwar, Sejarawan
alianwar65@gmail.com

Satu Tanggapan

  1. terimakasih atas informasinya, sekarang kita tahu seperti apa Kota Bekasi itu sebenarnya😀

    salam
    kangtatang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: