Bawah-Atas, Ngalor-Ngidul (Ngalor-ngidul Bekasi, Radar Bekasi, Kamis, 11 Februari 2010)

Saat bertandang ke rumah sanak-famili di Gabus, Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, anak saya sempat melongo ketika seorang encing (adik ayah) bertanya, “Jem (jam) berapa dari atas?” Jarinya juga menggaruk-garuk kepala saat encang (kakak ayah) mengabarkan, “Kalo ada waktu, bulan depan gua ngidul”.

Buat anak-anak Bekasi zaman sekarang, terutama seperti anak saya yang tinggal di perkotaan, istilah “atas” dan “ngidul” terasa asing, bahkan nggak dimengerti. Padahal, kata tersebut merupakan makanan hari-hari sebelum dua puluh tahun yang lalu.

Agar anak-anak faham, sekaligus tidak tercerabut dari akar budayanya, saya harus menjelaskan. Bagi orang Gabus atau penduduk yang tempat tinggalnya mengarah ke dataran lebih rendah atau ke pantai Bekasi—Babelan, Tarumajaya, Muaragembong, Tambelang, Sukatani, Sukaringin,–memandang dirinya sebagai “orang bawah”.

Karena merasa sebagai “orang bawah,” otomatis mereka mempersepsikan saudara-saudaranya yang menetap di dataran yang lebih tinggi—seperti Bekasi Kota, Tambun, Cikarang, Kranji, Pondok Ungu, Cibarusah, Bantargebang, Jatiasih, Pondok Gede–sebagai “orang atas”.

Istilah lain dari “atas” adalah “kidul”, adapun “bawah” adalah “lor”. Kidul berasal dari bahasa Jawa yang berarti “selatan”, sedangkan “lor” berarti “utara”. Itu sebabnya, “orang bawah” kalau mau ke “atas” menyebutnya “mau ngidul”. Adapun orang “kidul” yang mau ke “bawah” menyebutnya “mau ngalor”. Dari istilah inilah kemudian mencul istilah “ngalor-ngidul,” yang juga memiliki konotasi mondar-mandir tanpa tujuan.

Mengapa “ngalor-ngidul”, bukan “ngetan-ngulon” yang berasal kata “wetan-kulon” (timur-barat)? Istilah “ngalor-ngidul” atau “bawah-atas” menjadi tren nenek moyang orang Bekasi sejak zaman prasejarah. Penyebab utamanya, sehari-hari mereka menggunakan sarana transportasi alami untuk berkomunikasi (bersilaturahmi, berdagang, sampai mengontrol kekuasaan), yaitu air.

Infrastruktur lalulintas air yang amat diandalkan adalah sungai. Sungai-sungai yang menonjol di Bekasi adalah Kali Bekasi, Kali Cikarang, dan Kali Citarum.
Efeknya, rumah-rumah menjadi menghadap ke sungai. Mesjid dan langgar dibuatkan tangga turun-naik ke sungai untuk berwudhu. Muara sungai menjadi pintu gerbang masuknya kapal, perahu, dan getek.

Sungai lebih diandalkan pada musim penghujan, karena perahu atau getek bisa bergerak lincah. Sedangkan pada musim kemarau air sungai yang surut tak bisa dilalui perahu. Solusinya, penduduk menggunakan jalan darat tak beraspal, menyusuri kiri-kanan sungai, yang jejaknya tersisa hingga kini.

Jalan darat Anyer-Panarukan (kulon-wetan) yang dibangun secara besar-besaran sejak masa Gubernur Jenderal H.W. Daendels (1808-1811), membuat moda transportasi berubah dari air ke darat. Dan, pelan tapi pasti, istilah “atas-bawah” mengalami pemupusan. Adapun “ngalor-ngidul,” berubah menjadi tren modern: utara-selatan. Buktinya, anak-anak “bahwa” kontemporer mendirikan organisasi gerakan bernama “Aliansi Utara”, bukan “Gerombolan Lor” atau “Komplotan Bawah”.

Ali Anwar, sejarawan
alianwar65@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: