Siti Aisyah: Bersama Kita, Berkarya Nyata

aisyah1097Siti Aisyah, S.Sos., M.Si.

Bersama Kita, Berkarya Nyata

Perempuan cantik berbalut jilbab mengendarai mobil teranyarnya di jalan-jalan utama. Melesat dari rumahnya, Jatiasih, Kota Bekasi, menuju kampung halaman nenek moyangnya di daerah Gabus, Tambun, dan Cibitung, Kabupaten Bekasi.

Memasuki Jalan KH Agus Salim, Kota Bekasi, sesaat perempuan muda bernama Siti Aisyah Tuti Handayani, S.Sos., M.Si. itu melambatkan laju kendaraannya di depan Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Bekasi. Senyum segarnya mengembang.

Rok di Bawah Lutut

Bukan hanya sejenak mengenang masa-masa indah menuntut ilmu di sana pada 1991-1994, melainkan juga bahagia menyaksikan adik-adik kelasnya telah berseragam putih-biru secara sopan: siswi mengenakan rok panjang, siswa bercelana panjang.

Dulu, Aisyah yang kerap disapa sebagai Yeyen, itu bersama teman-teman perempuannya mengenakan rok di atas lutut, sedangkan pria pakai celana pendek. Padahal mereka bukan lagi anak kecil, melainkan anak baru gede yang mulai memasuki akil baligh.

Ada satu kebanggaan juga bahwa ternyata kami bisa mengubah, paling tidak dari cara berpakaian,” kata Aisyah. Kini perubahan itu merebak di seluruh sekolah menengah pertama dan menengah atas di Kota Bekasi. “Bukan hanya sekolah khusus Islam, sekolah umum juga pakai rok panjang”.

Aisyah telah melakukan perubahan semendasar itu? Lembaga apa yang menyalurkannya? Bagaimana caranya? Rupanya ibu dua anak kelahiran Bekasi pada 22 Juli 1979 itu melakukan perubahan melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bekasi periode 2004-2009, dimana Aisyah sebagai anggota Komisi D dari Fraksi Partai Golongan Karya.

Tentu saja perubahan itu dilakukan bersama teman-teman di Komisi D,” ujar Aisyah merendah. Yang lebih membanggakan, produk inisiatif legislatif itu telah menjadi peraturan daerah (Perda) pada 2006.

Alasan melakukan perubahan, kata dia, karena wakil rakyat miris melihat anak-anak sekolah mengenakan pakaian di atas lutut. “Secara tidak langsung itu dapat merusak moral generasi muda,” katanya.

Anggota Dewan dari daerah pemilihan Kecamatan Jatiasih ini juga menyerap aspirasi masyarakat, sehingga mendekati akhir masa jabatannya, sekitar 85 persen jalan-jalan di Jatiasih teraspal. “Padahal sebelum saya jadi anggota Dewan, 40-50 persen belum terjamah,” kata Aisyah.

Dia juga telah memperjuangkan agar sekolah dan mesjid dibangun secara layak. “Karena saat pencalonan, banyak konstituen yang meminta perbaikan sarana fisik,” kata Ketua Pimpinan Kecamatan Partai Golkar Kecamatan Jatiasih itu.

Kini, putri sulung pasangan H Akhmad Zurfaih-Hj Muslimah yang telah memiliki segudang jabatan dan prestasi–termasuk Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia Kota Bekasi 2007-2010 dan pimpinan Majlis Taklim Al-Muslimah–itu mencalonkan kembali menjadi anggota legislatif.

Namun kali ini bukan untuk anggota DPRD Kota Bekasi lagi, melainkan meningkat menjadi anggota DPRD Provinsi Jawa Barat. Para pemilihnya pun meluas, menjadi seluruh daerah pemilihan VI yang meliputi Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi.

Karena calon pemilihnya lintas wilayah, maka Aisyah pun berjuang meraup suara di kedua wilayah ini. Simpul-simpul yang dibina sejak lama, kini kian dieratkan. Yang belum tersimpul, disambangi untuk memperkenalkan diri sekaligus meminta dukungan suara.

Inilah saatnya kian mempererat kembali penjuru tali silaturahmi dari empat keluarga besar,” katanya. Meski begitu, Aisyah menambahkan, Jatiasih, Gabus, Tambun, dan Cibitung, bukan hanya fakta, melainkan juga simbol sekaligus semangat pemilihnya yang berserak di Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi.

Termasuk para pendatang baru dari daerah lain, saya anggap saudara,” ujarnya. Itu sebabnya, visi-misinya tertuang dalam slogan “Bersama Kita, Berkarya Nyata”. Mereka, baik putra-putri asli Bekasi maupun endonan, diajak bersama-sama berkarya membangun Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi, yang bila dirinya terpilih dalam pemilihan calon legislatif pada Kamis, 9 April 2009, akan diperjuangkan melalui DPRD Jawa Barat yang berkantor di Gedung Sate, Bandung.

Darah Juragan, Jawara, dan Alim

Buah durian mateng, jatuhnya kagak bakalan jauh dari pohonnya. Begitu perumpamaan orang Bekasi terhadap seorang pemimpin yang tumbuh dari keturunan (genetic) yang juga seorang pemimpin. “Perjalanan hidup saya, sedikit-banyak dari hasil didikan orangtua,” Aisyah mengakui.

Ayahnya, H Akhmad Zurfaih, S.Sos, adalah Wali Kota Bekasi periode 2003-2008 dan anggota DPRD Kota Bekasi periode 1999-2003. Sepanjang hayatnya Zurfaih mendedikasikan dirinya untuk Bekasi dan Jawa Barat, melalui berbagai wadah organisasi.

Diantaranya pernah menjabat Ketua DPD AMPI Kabupaten Bekasi, Ketua Bidang Olahraga DPD KNPI Kabupaten Bekasi, Pimpinan Kecamatan Partai Golkar Kecamatan Jatiasih, Wakil Ketua DPD Partai Golkar Kota Bekasi, Sekretaris DPD Partai Golkar Kota Bekasi, dan Dewan Penasehat Partai Golkar Jawa Barat,.

Zurfaih juga aktif mengurusi sepak bola sejak remaja di Anak Bekasi Tugu (Abetu), Ikatan Remaja Tugu (Iretu), Sekretaris Persatuan Sepakbola Kabupaten Bekasi (Persikasi), Sekretaris Persatuan Sepakbola Patriot Kota Bekasi (Persipasi), Ketua III Pengurus Harian Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Bekasi, dan Pengurus Daerah PSSI Jawa Barat. Melalui tangan dinginnya Persikasi mempertahankan predikat juara umum Piala Suratin hingga tiga kali pada era 1980-1990-an. Belakangan Zurfaih sebagai Ketua Umum Badan Kekeluargaan Masyarakat Bekasi (BKMB) Bhagasasi dan Pembina Subuh Keliling (Suling).

Melalui gen Zurfaih, dalam diri Aisyah mengalir darah jawara, birokrat, juragan, dan guru mengaji. Ayah Zurfaih, H Abdul Rosyid yang pernah menjadi Lurah Bekasi Jaya adalah keturunan H Hanafi, Betih, dan Juragan Niran yang terkenal di Rawa Lumbu, Bantargebang, dan Jatiasih pada awal abad ke-20.

Adapun ibu Zurfaih, H Hamdah, keturunan H Saadih Pardia-Hj Siti Chodidjah. Saadih asal Rawa Lumbu yang pernah menjadi Camat Setu, Pebayuran, dan Cibitung, adalah kakak H Jole Sulaeman, jawara terkenal masa revolusi sampai 1950-an.

Sedangkan Siti Chodidjah dikenal sebagai perempuan alim keturunan H Saadi-Waung dan Rinem-Birin, juragan yang menghargai pentingnya pendidikan agama di Kampung Gabus. Rinem memiliki tiga adik, Serah, Rimin, dan Rindon, yang melahirkan para pimpinan birokrasi, ulama, dan jawara.

Sedangkan dari garis ibu Aisyah, H Muslimah, mengalir darah H Nabrih, Bolo, dan Endong, yang juga juragan terkenal di Tambun dan Cibitung. “Dari situ menunjukkan Aisyah lahir dari bibit unggul seantero Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi,” kata Ali Anwar, sejarawan Bekasi, yang juga kerabat Aisyah.

Aisyah mengakui, Zurfaih mulai mengarahkan dirinya menjadi pemimpin sejak dini dengan cara memperkenalkan dirinya kepada orang banyak. Dimulai tatkala Zurfaih mengurus sepak bola.

Ketika masih sekolah di SD Negeri Jatiasih, selain privat mengaji di rumah, “Saya sering dibawa-bawa bapak melihat latihan bola di Stadion Bekasi,” kata Aisyah.

Ketika sekolah di SMP Negeri 1 Bekasi, Aisyah kerap diajak ayahnya bila Persikasi bertanding ke luar kota, seperti Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya. Di sela-sela menonton sepakbola, Aisyah menyaksikan bagaimana ayahnya dihormati dan disapa banyak orang.

Kayaknya enak jadi pejabat atau orang nomor satu, dihormati banyak orang. Kemana-mana banyak yang nyapa,” ujar Aisyah mengenang.

Aisyah pun menjadikan Zurfaih yang memanjakannya sebagai figur teladan. “Sehingga lebih dekat ke bapak ketimbang ibu. Kalau bapak kan nggak suka ngomel, ha ha”.

Mojang dan Paskibra Bikin Pede

Proses pelatihannya berlanjut tatkala aktif di organisasi Prajamuda Karana (Pramuka) di SMP. Dari Pramuka dia memperoleh nilai-nilai kebersamaan, kemandirian, dan percaya diri. “Tapi ketika itu saya belum bisa percaya diri,” kata Aisyah.

Aisyah menemukan percaya dirinya justru bukan di Pramuka, melainkan ketika kelas III saat mengikuti pemilihan Mojang-Jejaka Bekasi pada 1994. Ketika itu, encing-nya yang juga guru SMP Negeri 1 Bekasi, Eni Cholidah (Ida Rosyid), mendaftarkan dirinya dalam ajang bergengsi itu.

Aisyah tak menyangka mendapat juara III tingkat SMP. Dia mulai menyadari betapa dirinya yang paling muda dibanding peserta lain, memiliki bakat terpendam. “Dari situ pede (percaya diri) saya lebih muncul lagi,” ujar Aisyah.

Organisasipun menjadi aktifitas yang menyenangkan. Saat masuk SMA Negeri 2 Bekasi, Aisyah aktif di organisasi ekstra kurikuler Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra). “Saya ngebayangin dalam upacara bendera saya yang ngebawa bendera,” kata Aisyah. “Itu bener-bener sangat dipuji orang”.

Di situlah, kata dia, masa-masa untuk menunjukkan kemampuan dirinya. “Tapi sayangnya saya nggak pernah bawa bendera, cuma jadi pasukan belakang saja,” Aisyah mengenang. Alasannya, tinggi badan Aisyah 165 sentimeter, padahal untuk menjadi pengibar bendera tingginya 170-an sentimeter.

Sempat kecewa, tapi tetap semangat, karena senior selalu memberi kepercayaan kepada saya menjadi komandan saat latihan,” ujar Aisyah. “Ternyata saya telah menjadi pemimpin,” katanya bangga. Paskibra membuat Aisyah menjadi remaja dan pelajar yang tertib, rajin, rapih, dan cekatan. “Melihat orang yang lelet saja saya tidak suka”.

Ditaksir Anak Pemilik Kost

Untuk mewujudkan cita-citanya menjadi dokter dan psikolog, Aisyah memilih jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). “Suka saja waktu ngelihat dokter, cantik dan kaya”. Setamat SMA pada 1997, dia mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) dengan dua pilihan: kedokteran dan psikologi. Keduanya di Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung.

Ternyata keduanya nggak goal,” kata Aisyah. Cita-citanya menjadi dokter pun kandas. Dalam UMPN tahun berikutnya, dia memilih Jurusan Psikologi dan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Unpad. “Akhirnya diterima di Ilmu Pemerintahan,” ujarnya.

Selama kuliah, dia banyak menyerap ilmu tentang pemerintahan, good governant. “Ditambah saat itu bapak anggota Dewan, jadi agak sedikit nyambung,” kata Aisyah. Melihat ayahnya enjoy sebagai anggota DPRD, benak Aisyah sempat terbersit ingin menjadi wakil rakyat. “Kayaknya jadi anggota dewan enak nih, ilmunya pas dengan yang saya punya”.

Aisyah membuat skripsinya tentang perkreditan setelah mengikuti praktek kerja lapangan di Bank Jabar, Bandung. Hubungannya dengan pemerintahan, karena di pemerintahan ada unsur keuangannya. “Kebetulan bapak juga pernah bekerja di Bank BRI Bekasi,” kata Aisyah.

Selama kuliah di Bandung, Aisyah kost di Dago Pojok, Dago. Pemilik kostnya pasangan Ahmad Syarif Puradimadja-R Kasomi. Syarif adalah pegawai di Departemen Dalam Negeri, konsultan Bank Dunia, dan dosen Jurusan Planologi Institut Teknologi Bandung. Salah seorang anak pemilik kost, M Adhya Pradjana, mahasiswa Institut Teknolgi Nasional (Itenas) Bandung, rupanya naksir Aisyah.

Aisyah pun kepincut dengan pemuda berdarah Garut serta Kerajaan Panjalu, Ciamis, Tasikmalaya, dan Banten. Cinta mereka diikat dalam pernikahan pada 2001. Hingga kini Aisyah-Adhya dikaruniai dua orang anak, Rizaldhy Quntasyah Puradimadja, 7 tahun, dan Allisyah Prastatya Syahdipra, 3 tahun.

Anak Muda Pimpin Partai Golkar

Sembilan tahun ngendon di “Kota Kembang” Bandung, Aisyah dan keluarga memutuskan pulang ke Bekasi pada 2002. “Ke sini kayak orang asing saja,” katanya. Ayahnya, Zurfaih, kembali mengajak putri kesayangannya itu dalam berbagai kegiatan sosial dan politik.

Awalnya dia dimasukkan dalam kepengurusan Partai Golkar Kecamatan Jatiasih. “Karena perempuan, jadilah saya sekretaris partai” ujarnya. Pada saat yang bersamaan, dia menjadi Ketua Kesatuan Perempuan Politik Golkar (KPPG) Jatiasih.

Karir politik Aisyah melejit. Hanya dalam waktu satu tahun, pada 2004 dia dipercaya menempatkan posisi puncak di Jatiasih, yakni Ketua Pimpinan Kecamatan (PK) Golkar Jatiasih. Dalam Musyawarah Kecamatan, itu Aisyah bersaing dengan seniornya, H Karma dan H Halimah.

Aisyah sempat gundah, karena yang dipimpin rata-rata pengurus yang usianya jauh lebih tua dari dirinya. “Waktu itu mah jarang yang muda,” kata Aisyah. Namun kegundahannya tidak berlarut-larut, karena dia mempunyai ayah yang bisa diajak berdiskusi dan dimintakan pendapat.

Zurfaih menyarankan agar Aisyah lebih banyak bertanya kepada pengurus yang lebih tua, karena mereka lebih banyak pengalamannya dibanding Aisyah. “Saya pegang prinsip, mereka orangtua saya,” ujarnya. Makanya, meski sebagai pemimpin dia punya otoritas untuk menginstruksikan atau menegur anak buahnya, namun caranya dia sesuaikan dengan situasi dan kondisi.

Negor-nya seperti anak ke bapak. Tidak mentang-mentang ketua PK, lantas saya sombong,” kata Aisyah. Alhamdulillah, kata dia, mereka menerima dengan baik. Sedangkan untuk meraih kemenangan dalam pemilu, Aisyah membuat program yang menyentuh kepentingan masyarakat dan bagaimana caranya agar masyarakat yang belum mengenal Partai Golkar, jatuh cinta sama Golkar.

Apalagi saat itu Golkar masih dipersepsikan sebagai partainya Orde Baru yang tidak disukai banyak orang,” kata Aisyah. Langkah pertama yang dilakukan Aisyah adalah membuat solid 156 orang pengurus yang tersebar di enam kelurahan. Caranya, dibuat kegiatan rutin, salah satunya mengadakan pengajian setiap sebulan sekali di setiap kelurahan secara bergiliran.

Selesai enam kelurahan, di-rolling lagi”. Hasilnya cukup memuaskan, karena setelah pengajian para pengurus bisa ngobrol-ngobrol tentang berbagai hal. Karena sering mengaji dan berdiskusi, maka aspirasi pengurus dan masyarakat pun tersalurkan. “Buat Golkar, kita memetakan perpolitikan dan bagaimana strategi kedepannya,” ujar Aisyah.

Ayah Wali Kota, Anak Legislator

Pada saat yang bersamaan, Akhmad Zurfaih terpilih sebagai Wali Kota Bekasi periode 2003-2008. Posisi Aisyah pun semakin kuat. Karenanya begitu pemilihan anggota DPRD Kota Bekasi, Aisyah ikut mencalonkan dari daerah pemilihan Kecamatan Jatiasih dan Bekasi Selatan.

Aisyah mengakui, dirinya dimudahkan dalam pencalegan, “Karena saya punya mesin partai politik,” ujarnya. Selain Aisyah, ada lima calon lagi dari dua kecamatan itu, yakni H Karma, H Halimah, Esron, H Bahrudin, dan Rahmat Effendi. “Yang masuk saya dan Bang Rahmat Effendi,” katanya.

Ketika itu Aisyah memperoleh 19 ribu suara. Suara tersebut, kata Aisyah, berasal dari suara konstituen ayahnya pada pemilihan 1997 yang berjumlah 12 ribu, “Sisanya yang 7.000 suara murni dari saya”. Di KPUD Kota Bekasi, Aisyah memperoleh suara terbanyak kedua yang mencoblos namanya di Kota Bekasi, yakni 11 ribu suara dari 19 ribu suara.

Penambahan suara itu, karena potensi Aisyah sebagai perempuan dan masih muda. “Saya bisa masuk ke kompleks-kompleks perumahan, dan masuk ke anak muda”. Namun, menurut dia, suara itu bukan dari hasil uncang-uncang kaki. “Meski orangtua saya wali kota, tapi saya harus merasakan susahnya mencari suara,” kata Aisyah.

Sebenarnya, kalau mau mengandalkan kekuasan orangtua, dia tidak perlu melakukan sosialisasi turun ke bawah. Zurfaih tinggal menekan lurah atau camat agar menggiring masyarakat memilih Aisyah. “Tapi saya dididik harus turun ke bawah,” katanya.

Dengan dia turun ke bawah, masyarakat merasa yakin, “Ternyata saya bukan anak karbitan”. Hasil perjuangan tersebut rupanya amat berguna.

Sebagai contoh, ketika menjadi legislator, dia pernah ditanya oleh masyarakat, “Pernah nggak ke rumahnya si A, kampung B?” Tentu saja Aisyah menjawab tangkas. “Pada 2004 saya pernah ke situ, dibantu oleh tokoh masyarakat di situ. Jadi sudah saya rasakan sekarang”.

Selama menjadi anggota Dewan, Aisyah masuk dalam Komisi A yang membidangi pemerintahan selama dua tahun, di Komisi D bidang pendidikan selama satu tahun, dan kembali di Komisi A selama dua tahun.

Sebagai anggota Dewan dengan ayah sebagai wali kota, kadang-kadang membuat Aisyah tidak enak hati kalau memprotes pemerintah daerah. Dia juga sempat menjadi bahan ledekan koleganya. “Ah si Aisyah kagak bakalan berani memprotes bapaknya, bapaknya kan wali kota”.

Ledekan tersebut justru menjadi cambuk bagi Aisyah. “Kalau pemerintah kotanya salah, kenapa saya tidak berani,” katanya. Buktinya, pada sidang paripurna pembacaan pandangan umum APBD 2005, Aisya yang mewakili Fraksi Golkar meminta kepada Wali Kota Bekasi Akhmad Zurfaih agar menindak oknum pejabat yang “bermain” dengan kontraktor sehingga mengurangi kualitas jalan.

Bahkan beberapa persoalan dia selesaikan secara memuaskan, baik pihak masyarakat maupun pemerintah. Karena sebelum berdialog dengan masyarakat, dia menghimpun amunisi dulu dengan bertanya kepada Zurfaih. “Saya jadi penengah,” ujarnya.

Aisyah juga bukan tipe pemimpin yang “lupa kacang akan kulitnya”. Buktinya, Hampir semua pengurus partainya yang belum bekerja disalurkan. “Sebagian besar pegawai negeri,” katanya.

Namun, kata dia, untuk mendapatkan jabatan itu, anakbuahnya tetap melalui prosedur sejak pendaftaran sampai tes. “Saya cuma mencari tahu bagaimana sih caranya menjadi pegawai negeri yang benar”.

Selama di Komisi D, Aisyah mengakui kurang menjiwai. Karena membahas masalah sekolah. Meski begitu, justru karya yang paling berkesan malah saat di Komisi D, terutama saat mengajukan hak insisiatif agar anak sekolah mengenakan pakaian di bawah lutut. “Paling berkesan,” katanya. Saat rolling komisi, “Saya bilang mau pindah lagi ke komisi A”.

Perempuan Pertama Pimpin KNPI

Kesempatan baik memang selalu menyertai perjalanan politik Aisyah. Di tengah-tengah masa keanggotaannya di DPRD Kota Bekasi, Dewan Pimpinan Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Bekasi akan menggelar musyarah daerah (musda) pada 2007. Salah satu agenda terpenting musda adalah pemilihan ketua.

KNPI Kota Bekasi merupakan wadah para pemuda di Kota Bekasi yang bersifat independen dan tidak berpartai politik. Ketika itu di Kota Bekasi mempunyai 62 organisasi kepemudaan dan mahasiswa.

Sebagai anggota DPRD yang masih muda, pada 2006 masih 27 tahun, Aisyah terobsesi memimpin KNPI. Persoalannya dia hanya bermodalkan sebagai aktivis partai, bukan organisasi kepemudaan yang independen.

Apa cara? Maka Aisyah pun masuk organisasi Pemuda Pancasila pada 2006. Di sana dia menduduki posisi yang cukup strategis, bendahara, dan Ketua Majelis Pertimbangan Cabang Srikandi Pemuda Pancasila Kota Bekasi. Karenanya menjelang musda KNPI, dia langsung mendaftar sebagai kandidat ketua KNPI.

Pendaftaran Aisyah sempat menggegerkan perpolitikan di Kota Bekasi. Banyak orang bertanya, mengapa dan untuk apa Aisyah mengambil posisi Ketua KNPI disaat menjadi anggota DPRD?

Pertanyaan itu memang layak mencuat, karena dalam mainstream perebutan kepemimpinan di KNPI sebelumnya, seseorang menjadi Ketua KNPI terlebih dulu, baru menjadi anggota Dewan, pegawai negeri, atau petinggi partai.

Sebelumnya KNPI sebagai jembatan menjadi anggota Dewan dan PNS,” ungkap Aisyah. Dia mengambil contoh seniornya, Edi Prihadie, setelah menduduki jabatan Ketua KNPI, barulah dia menjadi anggota DPRD dan pegawai negeri.

Ubaidillah, menjadi Ketua KNPI untuk lebih mengembangkan karirnya sebagai pegawai negeri. Atau Herry Budi Susetyo, yang setelah menjadi Ketua KNPI makin moncer posisinya di Partai Golkar. “Sedangkan saya jadi anggota DPRD dulu baru mencalonkan diri sebagai Ketua KNPI,” kata Aisyah.

Tentu saja Aisyah punya alasan. “Semua itu adalah pembelajaran buat saya. Karena sejak awal saya tidak pernah bergelut dalam organisasi kepemudaan,” kata Aisyah. Karena setelah lulus kuliah dia langsung langsung masuk partai.

Agar menang dalam pemilihan, Aisyah melakukan strategi dengan cara merangkul semua organisasi kepemudaan dan mahasiswa. Meski dirinya berasal dari Pemuda Pancasila, “Namun nilai jual saya karena saya anggota DPRD,” ujarnya.

Posisinya di Dewanlah yang membuat lingkup pergaulannya lebih luas, terutama dengan organisasi kemahasiswaan lokal, seperti Keluarga Pelajar dan Mahasiswa Bekasi (Kapemasi) di Bandung dan Ikatan Mahasiswa Bekasi (Ikamasi) di Yogyakarta. “Paling tidak Aisyah sudah punya dasar untuk menjadi pemimpin dalam organisasi ini,” katanya.

Saat pemilihan, selain Aisyah dari Pemuda Pancasila, ada dua kandidat lain, yaitu Yudhistira dari Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Aweng dari Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI).

Majunya Aisyah bukan tanpa tantangan. Ada OKP yang sejak awal menolak kepemimpinannya dengan alasan gender, perempuan. “Tapi itu cuma satu suara. Jadi kagak ngaruh,” kata Aisyah.

Ada juga yang bilang, Aisyah partainya jelas, Golkar, sehingga mereka khawatir KNPI dibuat “kuning”. “Itu tantangan buat saya. Tapi saya punya komitmen bahwa KNPI tetap independen dan nonpartai,” katanya. Akhirnya sebagian besar suara dilimpahkan untuk Aisyah. “Dari total 62 suara, kandidat yang lain digabung dapat 14 suara, sisanya saya 48 suara”.

Dengan terpilihnya Aisyah menjadi Ketua KNPI Kota Bekasi periode 2007-2010, runtuhlah tradisi Ketua KNPI selalu dari kaum lelaki. “Di Jawa Barat baru saya Ketua KNPI dari perempuan dan termuda, 28 tahun,” kata Aisyah bangga.

Setelah menjadi Ketua KNPI, Aisyah baru menyadari betapa persoalan yang dihadapi amat rumit. “Organisasi di dalamnya majemuk banget,” ujar Aisyah. Sebagai pemimpin yang biasa mengendalikan partai, dia harus mengubah pola kepemimpinannya di KNPI.

Kalau di partai, begitu diinstruksikan langsung nurut, sedangkan di KNPI tidak bisa seperti itu. Mereka tidak bisa dipimpin oleh pemimpin yang seakan-akan organisasi saya yang punya,” ujarnya.

Maka, dia melakukan pendekatan dari hati ke hati, sehingga mulai paham ternyata mereka rata-rata mahasiswa. “KNPI kan usia di bawah 40 tahun. Mahasiswa kan paling tidak usianya di bawah saya. Saya juga pernah jadi mahasiswa,” kata Aisyah.

Kalau pada masa mahasiswa Aisyah paling tidak suka demo. “Tapi ternyata saya sekarang berada di antara mereka”. Keunikan lain di KNPI, juga suka ada “permainan”.

Pro dan kontra antarpengrus amat kelihatan. “Like and dislike kelihatan sekali”. Namun semua itu bisa direkatkan kembali dengan cara pertemanan. “Saya selalu menyapa mereka sebagai teman-teman”.

Sebenarnya, kata dia, sebagai Ketua KNPI yang juga anggota DPRD kadang-kadang menghadapi dilema saat mahasiswa mendemo DPRD dan pemerintah. Biasanya, sebelum mereka melancarkan aksinya, Aisyah menanyakan duduk perkaranya kepada para pendemo.

Kalau mereka tetap ngotot, Aisyah memberi berbagai bahan agar dipelajari dulu. “Maksudnya, agar materi yang disampaikan saat demo berkualitas, profesional, dan intelek”.

Independen Saat Pilkada

Janji Aisyah menjaga KNPI agar tetap independen dan tidak “dikuningkan” dia buktikan saat perhelatan pemilihan kepala daerah Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bekasi pada 2007-2008.

Saya mengeluarkan statement, KNPI independen, tidak memihak kepada salah satu kandidat, tapi kalau pengurusnya secara pribadi menjadi tim sukses siapa pun, silakan”.

Walaupun Ketua DPD Partai Golkar Kota Bekasi Rahmat Effendi menjadi calon wakil wali kota, “Saya tidak membawa organisasi KNPI ke arah M2R (Mochtar Mohamad-Rahmat Effendi),” katanya.

Namun selaku pribadi dan Ketua Pimpinan Kecamatan Partai Golkar Kecamatan Jatiasih dia menjadi tim sukses M2R.

Barulah kesanksian teman-temannya sirna. “Mereka merasa yakin bahwa KNPI tidak akan dijadikan kuning,” ujar Aisyah. KNPI diselamatkan dari intrik-intrik kepentingan sesaat.

Untuk melakukan pembinaan terhadap pemuda, Aisyah memfasilitasi kebutuhan mereka. “Mereka kan suka ada raker (rapat kerja), kita coba melakukan pembinaan agar mereka intelektual dan professional”.

Hasilnya, sebentar-sebentar organisasi kepemudaan dan mahasiswa menyelenggarakan seminar. “Kini mereka lebih banyak dialog langsung,” katanya. Dalam momen pemilihan umum legislatif dan presiden, dia berharap kepada seluruh pengurus KNPI agar menjadi pemersatu.

KNPI tidak pecah saat pemilu ini, malah mempersatukan di atas kepentingan-kepentingan politik. Di sinilah saatnya pemuda unjuk gigi, bisa diandalkan, tidak dipandang sebelah mata,” katanya.

Nimba Ilmu di Majlis Taklim

Meski telah menjadi “orang kota”, namun Aisyah tidak meninggalkan kampungya. Di lingkungan rumahnya, Aisyah aktif sebagai Pembina Dewan Kerja Mesjid Al-Muaz Azazid, Ketua Yayasan Al-Muslimah, dan pimpinan Majlis Taklim Al-Muslimah.

DKM kan mesjidnya punya keluarga. Tanahnya wakaf keluarga, Yayasan Al-Muslimah dan gedung serbaguna bagian dari keluarga,” kata Aisyah.

Itu yang mendekatkan saya dengan majlis taklim-majlis taklim”. Karena sering mengikuti pengajian di majlis taklim, dia pun dimasukkan dalam kepengurusan Badan Kontak Majlis Taklim (BKMT) Jatiasih.

Aisyah tidak memungkiri, majlis taklim, selain amat bermanfaat untuk menimba ilmu agama, juga sebagai wadah silaturahmi dalam rangka kepentingan politik.

Namun kesibukan di dunia organisasi politik, kepemudaan, keagamaan, dan sosial, bukan berarti meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil. “Saya tetap dalam satu minggu ada waktu untuk bareng mereka,” ujar Aisyah.

Pembagian waktunya, Senin-Jum’at mulai pukul 09.00 sampai 15.00 di Dewan, Setelah itu di Gedung Pemuda pada pukul 16.00 hingga 21.00. Kalau tidak ada kegiatan, minimal Magrib dan Isya sudah pulang.

Adapun waktu untuk anak-anaknya dijadwalkan setiap Sabtu-Minggu. “Paling-paling refreshing ke mal atau berenang”. Untungnya, kata dia, anak-anaknya sudah terbiasa ditinggal kerja. Tapi, “Bagaimana pun setiap pagi saya harus nyiapin sarapan buat mereka,” ujar Aisyah.

Calon Legislator Nomor 5

Sukses terjun di ranah partai politik bagaikan makan sambal. Semakin pedas dan gurih, semakin nikmat dirasakan. Tak hanya puas menjadi anggota DPRD Kota Bekasi, dalam pemilihan umum legislatif 2009 ini Aisyah memutuskan mencalonkan diri sebagai legislator di DPRD Provinsi Jawa Barat.

Pencalegan provinsi meliputi Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi. Para calonnya ada dari unsur Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, dan Provinsi Jawa Barat. Secara berurutan, calon legislator Jawa Barat dari daerah pemilihan VI itu adalah Neneng Hasanah Yasin, Rahmat Sulaiman, Sindula Gunawangsa, Nunung Nursilah, Siti Aisyah, Soleh Sugiarto, Chumasno Dipo, Sirojuddin, Lia Harliani Imron, Agus Suparman, Soni Ragam Santika.

Diberi posisi nomor 5 sempat membuat Aisyah kecewa, karena masuk katagori “nomor sepatu,” yang kecil kemungkinnya untuk menang. “Karena sistem nomor urut akan menguntungkan nomor teratas,” kata Aisyah.

Dia lantas memutuskan lebih baik jalan di tempat. “Artinya, ambisi tidak, tapi kita sebagai kader partai harus membesarkan partai, lebih banyak mengedepankan kader partai yang bisa menang, bukan Siti Aisyahnya,” kata dia.

Lagi-lagi nasib baik berpihak kepada Aisyah. Rupanya Mahkamah Konstitusi memutuskan sistem suara terbanyak. Artinya, meski posisinya “nomor sepatu,” seorang calon bisa lolos menjadi anggota legislatif kalau perolehan suaranya mencukupi. “Perasaannya senang, ternyata saya masih bisa berjuang,” Aisyah menghela nafas panjang.

Maka, Aisyah yang tadinya pesimistis, kini kembali bergairah. Jiwa mudanya bangkit, simpul-simpul dia hidupkan, mesin politik digerakkan. Ayahnya pun sibuk mengontak saudara dan teman-temannya dengan harapan memberi dukungan kepada penerus dinasti perpolitikannya. Bahkan suaminya menjadi tim sukses.

Tetap saja saya harus turun ke bawah,” kata Aisyah. Alasannya, masyarakat sekarang sudah pintar berpolitik. Di sisi lain, partai politik semakin banyak. “Sistem pemilu yang baru ini menjadikan saya tambah semangat, saya harus bisa nunjukin bahwa saya yang muda ini bisa bersaing dengan yang tua”.

Tantangan terbesar pemilu saat ini, kata Aisyah, adalah menggunakan cara mencontreng. Sementara sebagian besar kader Golkar adalah orang awam dan tradisional. Untuk itu, dia memutuskan lebih banyak bertemu dengan konstituennya. “Walaupun capek, saya harus dialog dari hati ke hati, door to door”.

Setiap kali melakukan sosialisasi, dia selalu memberikan informasi kepada masyarakat tentang bagaimana cara mencontreng yang benar. “KPU pun diuntungkan, karena para caleg ikut mensosialisasikan simulasi pencontrengan,” katanya.

Aisyah kian lega, karena beberapa komponen menyatakan dukungan atas pencalonannya menjadi anggota DPRD Jawa Barat. Diantaranya dari DPD Angkatan Muda Pembaruan Indonesia (AMPI) Jawa Barat yang menyatakan dukungannya secara tertulis, Yang ditandatangani Ketua AMPI Jawa Barat Agus Yasmin”.

Dukungan secara tertulis juga datang dari DPD KNPI Jawa Barat. “Surtnya ditandatangani Ketua Dian Rahadian dan Sekretaris Husni Mubarok,” kata Aisyah.

Adapun dukungan secara lisan diantaranya disampaikan Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Jawa Barat UU Rukmana dan Wakil Ketua Ali Hasan. “Mereka mendukung secara lisan saat saya meminta pertimbangan apakah saya nyaleg untuk DPRD Kota Bekasi atau DPRD Jawa Barat”.

Bersama Kita, Berkarya Nyata

Bagi Aisyah, kebersamaan yang dikenal sebagai gotong-royong adalah falsafah hidup bangsa Indonesia sejak jaman baheula. Itu sebabnya, pembangunan bangsa dan negara merupakan kegiatan yang harus dikerjakan secara bergotong-royong pula, sehingga falsafah kebersamaan atau gotong-royong harus terus dilestarikan.

Demi menuju masyarakat adil dan makmur,” kata Aisyah. Konsistensi Aisyah dan tim pendukungnya kemudian melebur dalam visi-misi “Bersama kita, berkarya nyata.” Artinya, “Kebersamaan (gotong royong) adalah jiwa masyarakat Indonesia, dan dengan kebersamaan kita mampu berbuat banyak,” kata Aisyah.

Visi-misi tersebut terurai dalam lima langkah karya. Petama, pendidikan yang terjangkau oleh semua kalangan, dimana penyelenggaraan pendidikan dapat dinikmati oleh semua kalangan masyarakat dengan biaya terjangkau, namun tetap memperhatikan kualitas pendidikan dengan langkah-langkah inovatif dalam penyelenggaraan pendidikan.

Kedua, pelayanan kesehatan murah, maksimal, dan tepat sasaran. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan dengan biaya yang terjangkau oleh semua kalangan masyarakat diimbangi dengan pelayanan yang maksimal, terutama bagi masyarakat tidak mampu.

Ketiga, mendorong terciptanya kesempatan kerja yang memadai, sehingga tercipta keseimbangan antara tenaga kerja dan kesempatan kerja dengan prioritas masyarakat tempat usaha dengan memperhatikan kebutuhan keahlian yang tersedia.

Keempat, mendorong terbukanya ruang usaha di bidang usaha jasa dan perdagangan yang luas. Dengan langkah ini membuka ruang bagi usaha jasa dan perdagangan baik perseorangan maupun skala perusahaan besar yang merupakan jalur alternatif bagi terciptanya kesempatan kerja selain bidang manufacturing (pabrik) dan bidang kerja lainnya.

Kelima, menumbuhkembangkan semangat dan kesempatan berwirausaha bagi generasi muda atau pemuda dan perempuan. Semangat kewirausahaan dibangun melalui pelatihan-pelatihan dengan instansi terkait dan kesempatan berwirausaha bagi generasi muda dan kalangan perempuan sebagai bagian dari menciptakan kesempatan kerja.

Lima langkah karya tersebut, Aisyah menambahkan, menjadi satu kesatuan derap langkah dirinya dalam membangun masyarakat Jawa Barat, terutama Kota Bekasi dan Kabupaten Bekasi, “Untuk menggapai masa depan dengan penuh kemandirian tanpa terpengaruh keadaan ekonom yang terpuruk,” kata Aisyah.

Biodata

Nama: Siti Aisyah Tuti Handayani, S.Sos., M.Si

Lahir: Bekasi, 27 Juli 1979

Alamat: Jl Sari Asih No. 7 Rt 05/05, Jatiasih, Kota Bekasi.

Website: http://www.sitiaisyahzurfaih.com

Suami: M Adhya Pradjana

Anak: Rizaldhy Quntasyah Puradimadja, 7 tahun, dan Allisyah Prastatya Syahdipra, 3 tahun.

Orangtua: H Akhmad Zurfaih dan H Muslimah

Pendidikan:

  • SD Negeri Jatiasih, lulus 1991

  • SMP Negeri 1 Bekasi, lulus 1994

  • SMA Negeri 2 Bekasi, lulus 1997

  • Universitas Padjadjaran, S1, lulus 2003

  • STIAMIK Mandala, S2, lulus 2006

Pengalaman Organisasi

  • Sekretaris Pimpinan Kecamatan Partai Golkar Kecamatan Jatiasih, 2003-2004

  • Ketua KPPG Partai Golkar Kecamatan Jatiasih, 2003-2008

  • Ketua Pimpinan Kecamatan Partai Golkar Kecamatan Jatiasih, 2004-2008

  • Anggota DPRD Kota Bekasi, Fraksi Golkar, 2004-2009

  • Bendahara PMI Kota Bekasi, 2004-sekarang

  • Pengurus Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Kota Bekasi, 2004-sekarang

  • Bendahara Badan Kontak Majlis Ta’lim (BKMT) Kecamatan Jatiasih, 2004-sekarang

  • Pimpinan Majlis Ta’lim Al-Muslimah, 2006-sekarang

  • Pembina DKM Al-Muaz Azazid, 2005

  • Ketua Yayasan Al-Muslimah, 2006-sekarang

  • Pengurus Ikatan Abang-Mpok Kota Bekasi, 2006-sekarang

  • Pengurus Badan Kekeluargaan Masyarakat Bekasi (BKMB) Bhagasasi, 2006-sekarang.

  • Bendahara Pemuda Pancasila, 2006-sekarang

  • Ketua Srikandi Pemuda Pancasila, 2007-sekarang

  • Ketua KNPI Kota Bekasi, 2007-sekarang

  • Fungsionaris DPP Partai Golkar, 2007-sekarang

  • Sekretaris Ikatan Alumni SMA Negeri 2 Kota Bekasi, 2007-sekarang

Satu Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: