Pengdut Menjadi Ikon Musik Dangdut Betawi

Pengdut Menjadi Ikon Musik Dangdut Betawi
Oleh Ali Anwar

Pengdut atau topeng dangdut, merupakan genre baru seni musik dan vokal hasil kolaborasi antara seni tradisi Bekasi, topeng, dengan seni musik dangdut modern. Alat musik topeng meliputi rebab, gendang rampak, saron 1 dan 2, kecrek, kenong, dan goong. Sedangkan alat musik dangdutnya meliputi suling dan gitar.

Kolaborasi dilakukan para anak muda Bekasi yang tergabung dalam One Center, bermarkas di saung pemancingan Pangkalan Bambu, Margajaya, Bekasi Selatan, Kota Bekasi. Dengan pengdut, maka musik dangdut yang digemari banyak orang, semakin bervariasi.

Penemuan nama pengdut dimulai dari kecintaan terhadap Bekasi, termasuk kulturnya. Saat Ali Anwar yang wartawan Koran Tempo melakukan liputan ke pelosok kampung, sempat menyaksikan betapa seni tradisional, terutama topeng, kian terpinggirkan.

Penanggapnya kian sedikit, karena mereka lebih senang menyewa organ tunggal. Seni tradisional yang cukup hidup adalah jaipong. Itupun karena jaipong harus dikolaborasi dengan dangdut, sehingga ada sebutan pongdut (jaipong-dangdut).

Masalahnya, jaipong bukan seni tari khas Bekasi. Pada saat yang bersamaaan Ali Anwar bertemu dengan Engkus Prihatin, teman di SMA Negeri 1 Bekasi, yang juga meyaksikan betapa indahnya topeng jika dipadu dengan dangdut.

Maka melalui salah satu wadah alumni SMA Negeri 1 Bekasi, One Center yang dipimpin Entah Ismanto, dilakukanlah serangkaian diskusi. Setelah dikomunikasikan dengan Grup Topeng Putra Budaya, Mustika Jaya, Kota Bekasi, pimpinan Edi Bading dan Nomir, jadilah pengdut.

Untuk mewujudkan obsesi tersebut, pengdut telah melakukan rekaman vokal dan musik di Studio Rekaman Permata, kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada April-Mei 2008. Lantas dilanjutkan dengan pembuatan video klip mulai Juni, sehingga bisa dilaunching akhir Maret 2009.

Karena topeng hidup dan berkembang dengan kultur betawi, diharapkan pengdut memiliki penggemar utama di bilangan Jabodetabek (Jakarta, Bogor Depok, Tangerang, dan Bekasi) dengan 4 juta pendukung.

Mengingat kultur betawi, terutama bahasanya, digunakan oleh kalangan anak muda di kota-kota besar di Indonesia, maka kehadiran lagu dan musik pengdut akan diterima pula oleh masyarakat penggemar dangdut di Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Artis pengdut yang masih berstatus pelajar sekolah menengah atas dan baru lulus diambil dari hasil audisi dangdut yang dilakukan One Center 22-24 Februari 2008. Yakni Intan Rengganis, Vivi Savila, Rina Yanty Pulungan, Dewi Istiana, Siti Nurrani, dan Ayu Susilawati.

Mereka menyanyikan lagu yang diciptakan Yhono Sambas dan Ali Anwar. Intan dan Vivi membawakan lagu “Haji Ali”, “Remang Kalimalang”, “Si Jagur”, dan “Gelombang Cinta”. Rina dan Rani menyanyikan lagu “Juragan Empang” dan “Bantargebang”. Adapun Dewi dan Ayu menyanyikan lagu “Cinta Pulau Kelapa” dan “Balada Topeng Dangdut”.

Lagu-lagu tersebut diupayakan bersentuhan dengan kehidupan sehari-hari di kawasan betawi, yakni Bekasi, Jakarta, Tangerang, Depok, dan Bogor. Lagu “Haji Ali” mengisahkan muda-mudi yang telah lama pacaran, namun sang lelaki tidak kunjung melamar pacarnya. Ceweknya mencoba meyakinkan, meski babe Haji Ali kaya, berpangkat, dan berkumis mamblang, namun berhati baik.
Lagu “Balada Topeng Dangdut” merupakan pembuka untuk memperkenalkan seni musik dan lagu pengdut, dengan pesan kepada generasi muda mencintai seni topeng yang berasal dari Bekasi. Dengan cara ini, topeng akan terangkat dari kondisinya yang hidup enggan mati tak mau.
Lagu “Remang Kali Malang” memuat pesan moral seorang istri agar suaminya jangan suka singgah di warung remang-remang yang menjamur di sepanjang Kali Malang, Bekasi. Sang istri siap melayani di rumah.

“Si Jagur” mengisahkan Kota Tua Jakarta dan legenda meriam Si Jagur yang kini bersemayam di Museum Fatahillah atau Museum Jakarta. Dipersembahkan untuk wisata Kota Tua yang tengah direvitalisasi oleh Pemerintah DKI Jakarta, sehingga menjadi lagu ikon Kota Tua.

“Gelombang Cinta” mengisahkan hubungan asmara buruh pabrik di Jabodetabek (terutama Tangerang) dengan seorang kekasihnya yang menjadi TKI di luar negeri. Namun entah mengapa, cinta mereka terputus. Sang perempuan meminta kekasihnya merawat cinta mereka seperti dirinya yang terus merawat tanaman gelombang cinta.

“Juragan Empang” tentang kisah cinta seorang wanita yang kesemsem dengan juragan empang. Untuk menghibur komunitas yang suka memancing.

“Bantargebang” mengungkap pesan seorang perempuan pemulung di TPA Bantargebang agar kekasihnya yang kini telah sukses menjadi juragan pemulung, agar jangan takabur dan melupakan kekasihnya.

“Cinta Pulau Kelapa” kisah cinta muda-mudi di Kepulauan Seribu, Jakarta. Untuk mengambil pangsa warga di Kepulauan Seribu, sekaligus untuk mengenang masa-masa indah siapapun yang pernah ke Kepulauan Seribu, dan ikon wisata Kepulauan Seribu.

*Disampaikan dalam diskusi “Pengdut Menjadi Ikon Musik Bekasi,” One Center, Kota Bekasi, Kamis, 26 Maret 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: