Perlawanan Elegan Seorang Adrian B. Lapian

Akhirnya, perlawanan secara elegan itu dilakukan juga oleh Prof. Dr. Adrian B. Lapian, ahli sejarah maritim Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, melalui buku Pelayaran dan Perniagaan Abad ke-16 dan 17, yang diterbitkan Komunitas Bambu (2008). Tak hanya diterbitkan, Lapian juga memproklamirkan buku itu di Gedung Widya Graha, LIPI, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (10/9) pukul 10.30-12.30.

Perlawanan, karena buku ini merupakan karya arisinil Lapian yang tercantum dalam buku Sejarah Nasional Indonesia (SNI) dilid III (1975). Namun sayang, buku babon yang dikomandani sejarawan Prof Dr Nugroho Notosusanto dan Prof Dr Sartono Kartodirdjo, itu tidak mencantumkan Lapian sebagai penulisnya.

Tentu saja, menurut saya dan beberapa sejarawan, membuat Lapian jengkel. Betapa tidak untuk membuat karya besar, dia harus menguras pikiran, waktu, dan tenaga. Sebagai tanda solidaritas, para sahabat dan muridnya, selalu mengusulkan agar Lapian melakukan perlawanan. Tapi, apa yang harus dilawan, kalau ujung-ujungnya kian menambah luka, mengeluarkan biaya, dan waktu tak sedikit? Bagaimana bentuk perlawanannya?

Namun, akhirnya ada jalan juga. Perlawanan elegan. Caranya, “menarik” sendiri karyanya itu dari bab I dari SNI jilid III, lantas menerbitkan sendiri secara terpisah menjadi karya tunggal Lapian. “namun baru sekarang ini menjadi kenyataan,” kata Lapian dalam pengantar bukunya.

Semangat perlawanan diakui Lapian bersamaan dengan kegigihan JJ Rizal dan rekan-rekannya dari Komunitas Bambu. “Hal ini baru dimungkinkan atas prakarsa teman-teman di Komunitas Bambu yang telah berupaya keras mewujudkan gagasan ini,” ujarnya.

Mula-mula, kata Lapian, naskah tersebit diperbarui karena sejak ditulis lebih dari 30 tahun yang lalu, sudah tentu banyak penerbitan yang memperkaya pengetahuan mengenai topik maritim. Namun, setelah membaca kembali teks itu, “Kami memutuskan untuk mempertahankankannya, kecuali membetulkan kesalahan-kesalahan ketik yang ternyata banyak sekali dan menempatkan kembali bagian-bagian yang tadinya tercecer atau dihilangkan,” ujarLapian.

Di samping itu, kata lapian, perombakan naskah akan mengubah kerangka orisinal yang telah disusun oleh Prof Dr Sartono Kartodirdjo (almarhum) dan dibicarakan bersama dalam suatu lokakarya pada tahun 1972 di Tugu, Jawa Barat, dalam rangka penulisan buku SNI enam jilid edisi 1975.

Langkah Lapian patut diacungi jempol. Dengan “menarik” dan menerbitkan sendiri karya tulisnya, sejarawan kelahiran Tegal, Jawa Tengah, 1 September 1929, itu merupakan bentuk perlawanan terhadap kesewenang-wenangan atau setidaknya keteledoran yang membuat namanya tidak tercantum sebagai penulis di SNI jilid III.

Penerbitan buku ini juga menunjukkan kepada publik bahwa ternyata Lapian adalah sang penulis sesungguhnya tentang bab 1 mengenai maritim itu. Dengan begitu, Lapian sekaligus mengingatkan kepada siapa pun yang hendak mengecilkan atau menghilangkan nama pemilik karya cipta agar tidak mengulangi keteledorannya.

Lebih dari itu, seperti komentar Anthiny Reid, Research Leader Asia Research Insitute-NUS Singapore, yang tertera dalam sudut kiri atas cover buku, “Tidak ada sarjana Indonesia yang telah mendemonstrasikan keahliannya sebagai sejarawan lebih baik dari Adrian B. Lapian”.

Dalam peluncuran buku tersebut, Mashuri mengatakan, buku ini harus dikembangkan. “Agar buku yang terkesan statis ini menjadi dinamis. Karena aspek dinamisnya belum tercakup,” kata Mashuri. Sedangkan Deddy dari Lembaga Kajian Maritim LIPI menilai Lapian sebagai Bapak Ahli Maritim Indonesia. “Karena bukan hanya mengembangkan sejarah maritim, tetapi juga membentuk lembaga maritim kontemporer,” kata Deddy.

Dulu, kata Deddy, Lapian selalu mengatakan kajian sejarah maritim adalah sangat sungi. Namun, “Saya senang, sekarang banyak teman,” kata Deddy mengutip Lapian. Karena antara sejarah maritim dan maritim kontemporer saling mengisi, “Maka perlu aliansi antar kedua ilmu ini,” ujar Deddy.

Usai peluncuran buku, Lapian diberi karikatur bergambar didirnya, dan didaulat membubuhkan tanda tangan pada buku mereka. Buku yang dihadiahi JJ Rizal kepadaku juga ditandatanganinya. Dosenku semasa kuliah di Jurusan Sejarah Universitas Indonesia itu langsung menatapku sambil tersenyum.

“Oo, Ali Anwar. Apakabarnya?” kata Lapian. Dia pasti ingat, karena aku membuat ilustrasi wajahnya yang aku tempel di dinding Jurusan Sejarah, Depok. Lapian juga mengucapkan terima kasih kepadaku padapengantar bukunya. “Ali Anwar (pelukis sketsa wajah penulis)” yang sketsa wajahnya tertera di halaman biodata penulis. Selamat berjuang Pak Lapian. Perlawanan eleganmu akhirnya terwujud, dan kau menang!

Satu Tanggapan

  1. hellooo.. artikel nya bagus2 thanks n salam kenal ya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: