Plagiat Dalam Ilmu Dan Seni

Plagiat Dalam Ilmu Dan Seni

Oleh Ajip Rosidi

Kompas, Jawa Barat, Sabtu, 26 Agustus 2006

Dalam dunia ilmu dan seni ada istilah plagiat, yaitu kalau sebuah karya ilmiah atau karya seni yang diumumkan oleh seorang ilmuwan atau seniman ternyata sama atau hampir sama, atau sebagian besar bentuk dan isinya berdasarkan karya ilmiah atau karya seni orang lain tanpa menyebut atau menerangkan kenyataan tersebut. Artinya, ilmuwan atau seniman itu mengakui karya ilmiah atau karya seni tersebut sebagai karyanya sendiri dan mengumumkan karya itu atas namanya.

Plagiat baik dalam dunia ilmu maupun seni merupakan perbuatan tercela, hina, dan disamakan dengan pencurian atas ciptaan orang lain. Ilmuwan atau seniman yang melakukan plagiat namanya akan jatuh dan tercela. Di Indonesia perbuatan plagiat pernah terjadi baik dalam dunia ilmu maupun seni.

Dalam dunia ilmu contoh yang spektakuler adalah ketika diketahui bahwa sebuah karya Dr Amir Santoso dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unversitas Indonesia merupakan plagiat dari hasil penelitian orang lain. Sebagai hukuman terhadap perbuatannya yang tercela itu, Senat Guru Besar Universitas Indonesia membatalkan pengukuhannya sebagai profesor, dan selanjutnya dia tidak akan dapat diangkat sebagai guru besar di universitas tersebut. Perbuatan plagiat dianggap sebagai perbuatan hina dan tercela yang tidak berampun oleh Senat Guru Besar Universitas Indonesia.

Dalam dunia seni perbuatan plagiat yang amat masyhur ialah yang dilakukan oleh penyair Chairil Anwar. Akan tetapi, perbuatan itu baru diketahui setelah sang penyair meninggal dunia. Sahabat- sahabatnya seperti HB Jassin dan Asrul Sani membela perbuatan tersebut dengan mengatakan bahwa Chairil terpaksa berbuat demikian karena pada waktu itu dia memerlukan uang untuk berobat.

Namun, perbuatan memplagiat sajak Hsu Chi Mo (Datang Dara Hilang Dara), Archibald MacLeish (Krawang-Bekasi), dan lain-lain tetap merupakan perbuatan tercela yang mencoreng kemasyhurannya sebagai penyair terkemuka walaupun kepeloporannya dalam per-puisian Indonesia tetap diakui.

Sejak beberapa bulan ini dimuat berita-berita dan komentar tentang tuduhan terhadap Prof Dr Nina H Lubis yang dikatakan telah melakukan plagiat terhadap naskah mengenai KH Noer Alie dari Bekasi. Seseorang yang mengaku sebagai penulis asli naskah tersebut, Ali Anwar, menggugat Prof Dr Nina H Lubis yang dituduh telah mencuri isi naskahnya untuk kepentingan mengajukan KH Noer Alie agar diakui sebagai pahlawan nasional atas nama Pemerintah Daerah Kabupaten Bekasi.

Pahlawan nasional

Menurut Ali Anwar, dia sudah mengirim surat pengaduan baik kepada Rektor Universitas Padjadjaran tempat Nina menjadi guru besar maupun kepada Gubernur Jawa Barat, juga kepada Pemda Bekasi yang telah menyewa Nina untuk membuatkan argumentasi dalam usahanya memperjuangkan almarhum KH Noer Alie menjadi pahlawan nasional.

Sampai sekarang belum terdengar pembelaan dari Prof Dr Nina H Lubis, kecuali komentar pendek bahwa ada orang yang memfitnah dan mau mencemarkan nama baiknya. Padahal, sebagai tertuduh dia tidak saja mempunyai hak untuk membela diri, tetapi juga harus memberikan keterangan terbuka untuk membersihkan namanya dari tuduhan tersebut. Kalau dia merasa ada orang yang memfitnah dan mencemarkan nama baiknya, dia harus dapat menjelaskan apa motivasi yang mendorong orang tersebut untuk memfitnah dan mencemarkan nama baiknya.

Karena dia sekarang menjadi guru besar di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, maka sebaiknya Senat Guru Besar Universitas Padjadjaran menyelidiki kebenaran atau ketidakbenaran tuduhan dan gugatan tersebut untuk menjaga nama baik dan integritas keilmuan Universitas Padjadjaran.

Jika ternyata tuduhan dan gugatan tersebut tidak benar, maka Senat Guru Besar Universitas Padjadjaran harus membela nama baik dan kehormatan Prof Dr Nina H Lubis sebagai salah seorang anggotanya, sekaligus nama baik dan kehormatan Universitas Padjadjaran.

Sebaliknya, jika terbukti bahwa tuduhan itu benar, Senat Guru Besar Universitas Padjadjaran harus mengambil sikap tegas terhadap anggotanya yang melakukan perbuatan tercela dan hina sebagai ilmuwan. Senat Guru Besar Universitas Indonesia telah membatalkan pengukuhan Dr Amir Santoso sebagai guru besar karena hendak menjaga nama baik dan integritasnya sebagai lembaga ilmiah yang harus terhindar dari perbuatan hina dan tercela.

Merebut “proyek”

Baru-baru ini terbit buku Landasan Pengusulan KH Noer Alie sebagai Calon Pahlawan Nasional oleh Lembaga Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran. Dalam buku tercantum bahwa buku itu diikhtisarkan dari Kemandirian Ulama Pejuang Biografi KH Noer Alie karya Drs Ali Anwar. Sementara Prof Dr Nina H Lubis MS hanya menjadi editor (seperti tercantum dalam kolofon h II) dan penulis kata pengantar.

Dengan terbitnya buku itu (hendak) dibuktikan bahwa Prof Dr Nina H Lubis tidak melakukan plagiat, melainkan hanya membuat ikhtisar. Dengan demikian, tuduhan sebagai plagiat terhadapnya bisa disebut tidak terbukti.

Namun, ada pertanyaan yang langsung timbul setelah melihat buku itu, yaitu, apakah pengajuan argumentasi tentang perlunya seseorang diangkat sebagai pahlawan nasional perlu diterbitkan sebagai buku? Kapan sebenarnya buku itu terbit? Pada waktu hendak mengajukan permohonan itu atau baru setelah Prof Dr Nina H Lubis diributkan telah melakukan plagiat?

Kalau buku itu sudah terbit pada waktu pengajuan permohonan, tentu gugatan dan tuduhan Ali Anwar akan ditujukan kepada penerbit buku itu, yaitu Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran, yang telah menerbitkannya. Ali Anwar akan mengajukan gugatan atas penerbitan singkatan karyanya yang tidak pernah dia setujui.

Dalam hal ini penerbit telah melakukan tindakan pembajakan atas karya Ali Anwar yang dijamin oleh Undang-Undang Hak Cipta Nasional. Prof Dr Nina H Lubis adalah Ketua Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran.

Jika buku itu baru terbit kemudian dan keterangan mengenai pengarangnya diganti, artinya itu hanya alat Prof Dr Nina H Lubis untuk membersihkan dirinya dari tuduhan dan gugatan Ali Anwar. Sangkaan demikian kian kuat karena sebenarnya tidak ada urgensi penerbitan landasan pengusulan itu sebagai buku.

Puluhan pahlawan nasional telah dikukuhkan tanpa penerbitan buku landasan pengusulan. Setelah mereka diakui sebagai pahlawan nasional, baru ada usaha menuliskan biografinya. Untuk pengusulan, yang diperlukan hanya beberapa kopi untuk dibaca oleh panitia yang bersangkutan.

Kalau memang buku itu diterbitkan oleh Prof Dr Nina H Lubis hanya sebagai alat untuk membersihkan namanya, maka beliau telah melakukan ketidakjujuran ilmiah demi kepentingan pribadi. Dan untuk kepentingan itu, dia telah menggunakan lembaga yang dipercayakan kepadanya sebagai penerbit agar mendapat kepercayaan moral. Biasanya karyanya diterbitkan sendiri atas nama Penerbit Historica.

Selain tuduhan bahwa Prof Dr Nina H Lubis telah melakukan plagiat atas karya Ali Anwar, juga ada tuduhan-tuduhan lain yang menyebut beliau suka merebut “proyek” penulisan sejarah lokal yang semula akan dipercayakan kepada orang atau tim lain, seperti penulisan sejarah Rangkasbitung dan sejarah Banten.

Meskipun tidak sehina melakukan plagiat, perbuatan tersebut secara moral bukanlah perbuatan terpuji. Perbuatan demikian seyogianya tidak dilakukan oleh orang terhormat seperti guru besar, apalagi bila motifnya hanya untuk memperoleh uang proyek. Tuduhan- tuduhan itu pun perlu dijernihkan untuk menjaga nama baik yang bersangkutan.

AJIP ROSIDI Penulis dan Pengarang,Tinggal di Pabelan, Jawa Tengah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: