Menjalankan Syari’at Islam dengan Belajar

Penasehat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abdullah Hehamahua mengatakan, idealnya penegakan syari’at Islam disertai dengan mencantumkan kata “syari’at Islam” di dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945. Namun, meski tidak tercantum, bukan berarti syari’at Islam tidak bisa dijalankan.

“Masing-masing umat Islam bisa menjalankan syari’at Islam bagi dirinya maupun lingkungannya,” kata Hehamahua dalam Semalam Bersama Dewan Dakwah Islamiyah dengan tema “63 Tahun Matinya Penegakan Syari’at Islam di Mesjid Nurul Islam, Islamic Center, Kota Bekasi, Sabtu, 9 Agustus 2008. Dialog yang dimoderatori Komaruddin Ibnu Mikam itu juga menghadirkan pembicara sejarawan Ali Anwar dan Ketua DDII Kota Bekasi KH Salimin Dani.

Salah satu contoh kecil, kalau masuk kerja pukul 07.00, maka upayakan tiba di kantor sebelum pukul 07.00. “Awalnya kedatangan saya ke kantor sama dengan office boy, tapi kini ada banyak karyawan KPK yang tiba di kantor pagi-pagi seperti saya,” kata Hehamahua. “Salat berjamaah saat Zuhur dan Ashar sudah menjadi kebiasaan di KPK,” ujarnya.

Kunci untuk menegakkan syari’at Islam, kata dia, adalah belajar. “Dengan belajar, semua bisa terbuka. Orang berilmu diangkat derajatnya oleh Allah SWT,” kata Hehamahua.

Sejarawan Ali Anwar sependapat dengan Hehamahua. “Ilmu pengetahuanlah yang membuat Islam dari dunia Arab bisa diterima masyarakat Indonesia dengan cepat,” kata Ali. Bayangkan, kata Ali, pada abad ke-7 dan abad ke-10 merupakan masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya di Palembang yang beragama Budha. Di Pulau Jawa ada Kerajaan Tarumanagara yang beragama HIndu.

“Tapi mengapa, Islam bisa masuk dengan mudah sampai berbentuk kerajaan Islam?” Salah satu kuncinya adalah, Islam masuk dengan damai menggunakan jalur perdagangan yang disertai dengan ilmu pengetahuan yang disebarkan para ulama.

Kebetulan pada abad ke-3 Hijriyah atau ke-10 Masehi, ilmu pengetahuan Islam mencapai puncaknya di dunia Arab. Saking tingginya penghargaan terhadap ilmu pengetahuan, seorang penerjemah buku dibayar dengan 1 kilogram emas. “Saat itu Islam menjadi tren dunia dan menjadi kiblat ilmun pengetahuan,” kata Ali.

Kini, negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Eropa, Jepang, sampai Cina, menjadi kiblat anak-anak mudas dan tren dunia, karena keunggulannya di bidang ilmu pengetahuan. “Makanya, kalau mau menegakkan syari’at Islam, kita harus terus belajar dan unggul di bidang ilmu pengetahuan,” kata Ali.

Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Kota Bekasi, KH Salimin Dani, berharap umat Islam berlajar dari sejarah. “Dengan belajar dari sejarah, kita akan bercermin pada kegagalan dan keberhasilan masa silam, sehingga tepat saat mengambil keputusan masa kini dan mendatang,” ujar Salimin.

Salimin menyayangkan sikap para tokoh-tokoh masa silam yang dalam waktu singkat menghapus kata “Syari’at Islam” dari Piagam Jakarta yang kelak menjadi Pembukaan Undang-undang Dasar 1945. Saat 21 Juni 1945 panitia sembilan setuju dan menandatangani Piagam Jakarta, namun pada 18 Agustus 1945 kata “syari’at Islam” dihapus, cuma karena Mohammad Hatta diberi argumentasi seorang opsir Kaigun (Angkatan Laut) beragama nasrani yang menyatakan akan memisahkan dari Republik Indonesia bila tetap mencantumkan syari’at Islam.

“Saya ragu dengan kejujuran Mohammad Hatta. Jangan-jangan itu hanya karangan dia saja,” kata Salimin. Meski pada perkembangannya para tokoh Islam yang berjuang untuk menegakkan syari’at islam mengalami kegagalan, seperti di Dewan Konstituante yang dikalahkan oleh Dekrit Presiden 1959, “Kita jangan surut memperjuangkannya,” ujar Salimin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: