Futsal Taman Kota, Tim Kiki Juara Tiga

Putra keduaku, Muhammad Sidqy Anwar, bersama tim futsal Taman Kota usia sekolah dasar bertanding di ruko taman Kota, Minggu, 10 Agustus 2008, pagi. Aku, Mama, dan di kecil Aisya, ikut menonton. Pada babak awal, timnya yang merupakan kolaborasi anak-anak Betawi-Cina-Jawa-Papua (yang sudah tidak membedakan suku, agama, ras, dan antargolongan alias SARA), memenangkan tim lain dengan skor 3:0.

Tapi dalam babak final, Sidqy yang biasa disapa Kiki, mengabarkan timnya menempati urutan ketiga. “Juara tiga, karena lawannya anak-anak gede,” kata Kiki setibanya di rumah pada pukul 11.00. “Alhamdulillah, juara tiga juga prestasi,” kataku.

Melihat Kiki bertanding, aku jadi tersadar betapa kami sementara ini tidak begitu peduli dengan keingian dan prestasinya. Beberapa kali dia minta izin ikut latihan futsal, namun dilarang, karena latihannya selalu malam hari saat belajar. Kami selalu mengijinkan Sabtu malam atau hari Minggu. Kali ini dia meminta izin lagi untuk latihan futsal Minggu malam. Dan akhirnya aku mengizinkan, dengan syarat, “Selesaikan dulu tugas belajar,” kataku.

Aku juga miris tatkala beberapa hari lalu Kiki bertanya pakai sepatu apa untuk latihan futsal? Setelah dicari-cari, ternyata ada sepatu bola untuk abangnya, Muhammad Ridho Anwar, yang sejak dibeli dari tukang sol sepatu seharga Rp 20.000 setahun lalu, belum pernah dipakai. “Kiki pakai ini saja,” katanya gembira.

Untuk memakai sepatu itu, terpaksa dia harus mencucinya terlebih dahulu. Rupanya kebesaran, ujung jari-jarinya masih berjarak sekitar 5 senti meter dai ujung sepatu. Aku buat solusi: dimasukkan kertas koran yang sebagai pengganjal. Kakinya pun terasa pas, tapi jadi lucu, karena kepanjangan.

Tapi Kiki nggak ngeluh. Sepulangnya latihan, Kiki melaporkan kalau hak sepatunya rusak. “Patah dan robek, gimana nih mau tanding besok,” katanya. Rupanya, lama tak dipakai membuat hak sepatu menjadi kering dan lapuk, sehingga ketika dipakai menjadi patah dan robek.

“Sudah, pakai sepatu sekolah aja dulu. Nanti, lain kali, Aba beliin sepatu futsal yang layak,” kataku menghibur. Kikipun tetap tidak patah semangat, yang ada di dala m benaknya Minggu harus bertanding dengan sepatu seadaanya.

Pagi menjelang pertandingan, dia kuminta pakaikaos kaki. “Supaya nggak lecet”. Rupanya Kiki terburu-buru, sehingga mengguankan kaos kaki Ridho yang telah longgar. Akibatnya, saat bertanding, beberapa kali dia memperbaiki letak kaos kakinya, karena kaos kaki itu selalu merosot, dan kian masuk ke dalam sepatu saat berlari. Mamanya yang ikut menyaksikan sampai terharu. “Lain kali dibeliin yang bagus ya,” kata Mamanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: