Mau Pinter, Eh,… Kesrimpet Buku

Negeri ini emang kagak ada bedanya dengan jaman penjajahan Belanda dan Jepang baheula. Kayanya kaga rela punya anak negeri pada pinter-pinter. Mau pinter, ada saja cara yang dilakukan penguasa dan politisi negeri ini supaya anak negerinya batal pinter. Dan, seharusnya, semakin dewasa usia negeri ini–17 agustus 2008 usia republik ini 63 tahun, booo–, biaya pendidikan semakin murah dengan kualitas pengajaran dan infrastruktur yang bagus.

Ada program hasil janji kampanye pendidikan gratis, tapi dengan modus baru atau cara licin lain, sehingga ujung-ujungnya tetap saja orang tua siswa ngeluarin duit yang nggak sedikit. Apa bedanya sebelum masa pendidikan gratis dengan saat pendidikan gratis, kalau orang tua siswa mengelurkan uang pertama sekitar Rp 2 jutaan. Itu yang jalur formal. Yang nyogok, tentu jauh lebih gede, bisa sampe Rp 10 juta.

Udah gitu, kalau dulu buku paket pelajaran diharuskan dibeli di sekolah dengan harga mencekik, kini guru dan sekolah nggak boleh jualan buku, kecuali di koperasi. Tapi di koperasipun pakai harga monopoli, sehingga jadi mahal.

Bagaimana dengan sekolah yang nggak punya koperasi? Modusnya, penerbit menitip buku di rumah-rumah guru yang lokasinya nggak jauh dari sekolah. Harganya, tentu sama mahal. Itu sebabnya, guru nggak ngasih daftar buku dan harga per bukunya. Karena kalau dikasih ke siswa atau orang tua, orang tua bakal membeli di luar rumah guru alias di toko-toko buku dengan harga lebih murah.

Atas dasar itulah, pada 20 Juli saya kirim SMS ke Wali Kota Bekasi Mochtar Mohammad, Wakil Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi, anggota DPRD, dan wartawan. Isinya, “Bukan guru kalo nggak pinter. Kalo kemaren2 guru jual buku pelajaran di sekolah, kini ada guru jual buku di luar sekolah: rumah guru atau yang ditunjuk oleh guru. Ali Anwar”.

Info dan komentar ini direspon redaktur Indopos Zaenal Abidin dan wartawan Kompas Cokorda. Kata Zaenal, “Betul bang. Bnyk bnget di bekasi.” Anggota DPRD dari FPKS Wahyu Prihantono bertanya untuk memperjelas, “Maksud Ustadz, beliau skrg jualan buku?”. Kepala Humas Kota Bekasi Endang Suharyadi bilang, “Buku bisa dibeli di koperasi sekolah” . Aku jawab, “Benet, tapi itu untuk sekolah yang punya koperasi.”

Sedangkan Rahmat Effendi kasih komentar, sekaligus minta solusi. “Luar biasa,,, harap bantu solusi dgn methode yg bergolak…”. Aku jawab begini, “Saya pernah ngajar di Arun Aceh. Perpustakaan sediakan semua buku, masing2 judul 2 buku: 1 buku dipinjam 1 smester, 1 buku di perpus. Kalo hilang, siswa beli di luar sbg pengganti.

Alhamdulillah, paska SMS itu, sejumlah sekolah “mengendorkan” langkahnya. Buktinya, saat aku kirim surat ke wali kelas agar diberikan daftar buku (nama penulis, judul buku, dan penerbit), langsung dijawab dengan memberikan daftar buku, tanpa harus beli di guru.

Ada juga sekolah di bekasi timur yang meminjamkan buku saat pelajaran. setelah selesai belajar, buku dikembalikan ke sekolah. Memang, ini membuat anak yang tak punya jadi nggak bisa bawa buku ke rumah, tapi langkah ini patut diacungi jempol. Jangan sampai mau pinter malah kesrimpet buku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: