PERMATA KALI MAYA DI KALI BEKASI (Ngalor-ngidul, Radar Bekasi, Senin, 11 April 2010)

SETIAP kali melintasi Jalan KH Agus Salim, Bekasi Timur, Kota Bekasi, saya selalu tergelitik untuk memandang nama gang di sekitar Kampung Tugu. Lokasinya persis di samping bekas Gedung Pertemuan Patal Bekasi: Gang Kalimaya. Mukanya di Jalan KH Agus Salim, ekornya berujung di Kali Bekasi, yang berjarak sekitar 200 meter. Sejumlah literatur di internet, seperti situs duniaperhiasan.blogspot.com, menguraikan, batu Kalimaya atau Opal merupakan batu permata yang memiliki sifat optik sangat unik. Menampilkan warna pelangi yang senantiasa berubah, tergantung pada sudut pengamatan.

Permainan warna pada permata opal disebabkan oleh butiran-butiran halus silica yang tersusun sangat rapi dan berfungsi membelokkan cahaya serta memancarkannya, sehingga menyebabkan warna-warna pelangi bermunculan saat dilihat dari sudut berbeda.

Meski banyak penjabaran tentang batu Kalimaya, namun saya kesulitan untuk mendapatkan pembenaran kalau Gang Bekasi berasal dari nama permata berharga itu. Yang saya tahu, sebelum 1980-an, gang terebut dikenal sebagai Gang Paar Kebo (kerbau), karena di sana memang pernah menjadi lokasi jual-beli kerbau.

Masyarakat setempat meyakini Gang Kalimaya diambil dari nama batu permata Kalimaya. “Emangnya di sini ada batu Kalimaya?,” kata saya. Setahu saya, batu Kalimaya berasal dari Rangkabitung dan Garut, atau Australia.

Seorang warga yang enggan menyebutkan namanya meyakinkah kebenaran kalau Kali Bekasi memiliki potensi batu Kalimaya. Dulu, kata dia, para pemburu batu permata kerap mencari batu Kalimaya di Kali Bekasi. “Tapi itu dahulu, sekarang udah nggak tahu apakah masih ada apa nggak,” katanya.

Mendegar keterangan itu, saya jadi teringat masa kanak-kanak. Pada 1970-an saya bersama teman-teman sering mandi di Kali Bekasi. Ketika itu, Kali Bekasi amat jernih, meski mulai tercemari limbah Rumah Sakit Umum Daerah Bekasi dan kotoran Pasar Bekasi. Pada musim kemarau, air Kali Bekasi surut.

Meski begitu, kami masih bisa berenang antara kolong jembatan kereta api dengan jembatan mobil. Pada dasar kali yang berbentuk daratan, persis di antara ujung Gang Kalimaya dengan jembatan kereta api itu, saya kerap menyaksikan beberapa lelaki usia 30-50 tahun mengayunkan cangkulnya. Bongkahan bebatuan kasar yang membentuk tanah itu mereka masukkan ke dalam keranjang besar.

Saking ingin tahu, saya sempat bertanya, “Apa yang dipacul itu, bang?” Seorang diantara mereka menjawab singkat: “Batu Kalimaya”. Karena masih kecil, saya belum mengerti apa itu batu Kalimaya dan sejenisnya. Saya hanya tahu, pekerjaan mereka tidak ubahnya tukang cangkul di sawah yang telah mengering. Rupanya bongkahan batu itu dibawa ke darat, untuk selanjutnya dibilas. Kalau beruntung, ya ada batu Kalimayanya.

Untuk mewayinkan rasa penasaran, beberapa tahun lalu saya bertanya kepada beberapa pedagang batu dan permata di Bursa Batu Aji dan Batu Permata Pasar Rawabening, Jatinegara, Jakarta Timur, apakah benar Bekasi memiliki Kalimaya. “Ya, Kalimaya dari Bekasi salah satu yang dicari pemburu permata. Tapi sekarang sudah sulit ditemukan.” Mungkinkah Kali Bekasi masih memendam permata Kalimaya? Bagaimana asal-usulnya? Masih gelap.

Ali Anwar, sejarawan

alianwar.wordpress.com, alianwar65@gmail.com

About these ads

3 Tanggapan

  1. mudah-mudahan tidak terungkap adanya, soalnya kalo terungkap nanti diekploitasi jadi malah tanbah rusak kali Bekasi :D
    wakakakak…..

  2. ditunggu bang tetntang lumbung padi sukamahinya :)

  3. Saya pernah melihat batu cincin bahan dasarnya sangat keras warnanya bening seperti kaca dan ada sedikit noda-noda hitam didalamnya. Setelah saya tanya kepada pemiliknya batu jenis apa itu, pemiliknya menyebutnya sebagai batu kalimaya Bekasi.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: